Minggu, 02 Januari 2011

Batal jadi Pagar Ayu

Kakak teman dekat saya akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 26 Desember 2010, dan teman saya tersebut meminta secara langsung agar saya bisa ikut berpartisipasi dalam pesta itu sebagai pagar ayu. Kebetulan dari tanggal 20 saya sudah berada di rumah dan saya tidak memiliki kesibukan yang berarti pada saat itu. Dua Hari sebelum pesta pernikahan berlangsung, saya berkunjung ke rumah yang punya hajat. Kebetulan saya dan keluarga ini memiliki tali persaudaraan, walau agak sulit untuk menguraikan tali tersebut. :)
Ketika kami sedang fitting baju, saya sudah merasa bahwa tidak ada baju yang sesuai dengan kondisi tubuh saya. Dikarenakan liburan yang cukup panjang, tidak ada kerjaan yang berarti yang dapat saya lakukan selain masak, makan, nyanyi, baca, dan tidur. otomatis badan saya semakin melar. Bagaimanapun juga, saya berusaha untuk tampil sebaik dan secantik mungkin di pesta pernikahan teh Isa. Kebaya andalan kembali saya gunakan agar terlihat lebih kemayu.
inilah beberapa momen yang dapat saya abadikan di pesta tersebut.








Disana, saya bertemu dengan beberapa teman baik saya ketika kami duduk di bangku SMP. ada pula guru bahasa Inggris favorit saya, serta guru-guru lainnya. wajar, orangtua yang pihak perempuan adalah seorang guru. What a life.

Surat untuk Sahabat Pena

Senin, 03 Januari 2011: 01.38 WIB

Ketika kamu sedang terlena di alam mimpi, aku justru tak bisa memejamkan mata malam ini. Daripada aku menghabiskan waktu percuma, aku memilih untuk memberanikan diri menulis surat ini untuk kamu.

Sedikit bernostalgia, kita saling kenal secara tidak langsung ketika kita sama-sama duduk di bangku SMP. Kamu yang dikenal sebagai siswa yang pintar, aktif, cerdas, dan dikagumi oleh beberapa teman perempuanmu. Sedangkan aku waktu itu hanya menjadi seorang siswi aktif yang cuma jago kandang. Kelas 2, kita dipertemukan di salah satu kelas favorit, dan hubungan kita jauh lebih akrab daripada sebelumnya. Banyak sekali kejadian yang membuat tawa kita lepas setiap harinya. Aku ingat, waktu itu semua orang seumuran kita sedang tergila-gila dengan sosok F4 yang pada saat itu tengah menjadi idola. Tapi, apa kamu tahu kalau kamu dan ketiga temanmu adalah orang-orang yang lebih aku idolakan dari F4. Aku tidak munafik, waktu itu aku juga membeli kaset asli F4, tapi aku lebih senang mendengarkan celotehan kalian daripada memutar lagu-lagu mereka. Menginjak kelas 3, kita tidak lagi sekelas. Hal itu membuat kita jarang bercanda dan berkomunikasi. Mungkin kita hanya bertegur sapa ketika kamu meminjam LKS aku untuk dicontek.  Dari kebiasaan itu, aku berinisiatif untuk menaruh beberapa lembar kertas kecil yang aku isi dengan curhatanku di dalam plastik sampul LKS yang selalu kamu pinjam. Aku berharap, kamu membaca keluh kesahku. Tidak disangka, aku menemukan beberapa kertas asing dalam LKS itu keesokan harinya. Senang sekali karena kamu membalas semua curhatanku. Komunikasi kita terus berlanjut melalui kertas yang diselipkan di LKS. Setiap hari ada saja cerita berbeda yang kita utarakan, sehingga aku bisa mengenalmu lebih jauh. Kegiatan tersebut berakhir ketika kamu menjalin hubungan dengan teman sekelasmu. Entah kenapa, aku sangat kecewa. Tetapi aku hanya bisa pasrah saat itu.

Setelah lulus SMP, aku melanjutkan sekolahku di daerah yang cukup jauh dari rumah dan tentu saja jauh dari kamu juga. Aku perlahan-lahan mencoba melupakan keintiman kita menjadi sahabat pena. Hingga suatu hari di pertengahan semester 2 kamu menghubungiku kembali. Aku tahu kabar perpisahanmu dengan perempuan itu beberapa hari setelah kita menjalin komunikasi. Aku lega, dan mulai berharap aku bisa jadi pengganti dia. Hampir dua tahun kita menjalin hubungan tanpa status. Walau tidak menggunakan media kertas, kita bisa lebih sering berinteraksi melalui telepon genggam. Kamu tidak juga meresmikan hubungan kita. Kamu malah bercerita tentang keseruan teman-teman kelasmu disana, termasuk kegilaan S, teman perempuanmu yang aku kenal yang kadang kamu ceritakan kegilaan-kegilaan yang kalian lakukan. Aku mulai merasa tidak enak hati. Firasatku berbisik, peristiwa dulu akan terulang lagi. Tidak lama setelah aku berpikir begitu, hal itu terbukti. Setelah aku coba pancing, akhirnya kamu mengaku bahwa kamu telah berpacaran dengan S. Aku hanya bisa pasrah (kembali). Dan agar kamu tidak merasa kasihan, aku mengaku bahwa aku juga sudah punya pacar. Di tempatku bersekolah, aku punya teman pria, dia sangat baik, tapi aku mengecewakannya ketika aku menolak ajakannya untuk berpacaran hanya karena aku optimis bahwa kamu akan meminta aku jadi pacar kamu. Akhirnya, aku minta temanku itu untuk berpura-pura menjadi pacarku. Karena kebaikannya, dia bersedia. Kita pun akhirnya saling bercerita tentang pacar masing-masing.

Kamu pernah bilang bahwa aku adalah seorang perempuan yang polos, pemalu, dan tidak bisa marah. Ya, itu benar. Walaupun aku berusaha untuk menganggap hubungan kamu dan S adalah kebahagiaan bagi sahabat penamu ini, tapi aku tetap sakit hati. Apalagi ketika kamu meminta aku untuk memilihkan hadiah ulangtahun untuk pacarmu. Aku ingin marah sebenarnya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Karena aku terlanjur luluh dan diperbudak oleh persahabatan kita. Saat itu aku hanya yakin bahwa karma itu ada.

Di awal perkuliahan, aku benar-benar sudah lupa akan kenangan kita. Aku punya dunia baru yang bisa menghiburku dari keterpurukan. Setelah aku mulai menikmati hari tanpamu, kamu datang kembali, membuka luka lama. Aku mendengar bahwa kamu telah dikhianati, S meninggalkanmu dengan pria lain di kampusnya. Aku sudah terlanjur kecewa dan tidak ingin merasakan sakit untuk ketiga kalinya. Oleh karena itu aku memutuskan untuk mengakhiri persahabatan kita pada waktu itu. Kita hanya teman biasa sekarang.

Mungkin setelah membaca surat ini, kamu bisa merasakan kemarahanku yang selama ini kamu penasaran ingin melihatnya. Kamu pasti tahu bahwa aku tidak tega walau untuk kesal dan cemberut sama kamu.

Terima kasih karena kamu pernah menjadi Sahabat penaku, sekaligus cinta pertamaku.

Your ex-penpal,


Widi Zakiyatin Nupus

P.S.: aku sudah membuang kaset F4 yang aku punya, begitu pula kertas-kertas dan kenangan kita.

Senin, 22 November 2010

Rumahku, Keluargaku, Surgaku

Setelah 2 bulan merasakan 'penyiksaan' yang selalu saya coba untuk menikmatinya, akhirnya saya pulang ke rumah, tempat tinggal yang paling nyaman, tenang dan indah. zona yang paling nyaman yang saya miliki. 9 hari disana cukup membuat saya lebih tenang, walau kerjaan saya hanya diam di rumah, bersih-bersih sebisanya, dan ngobrol serta bermain bersama keluarga.
Saya merupakan tipe orang yang tidak suka keluyuran, rumah keluarga saya sungguh terlalu sayang apabila harus terus ditinggalkan. Kenyamanan yang tiada tara yang dimiliki oleh rumah saya, belum ada yang bisa menandinginya.
kemarin saya rutin pergi ke villa keluarga yang kami sebut Joglo. Joglo ini bukan rumah adat, kami menyebutnya Joglo karena villa tersebut dibangun di daerah Joglo, Pameungpeuk-Garut.






















Saat ini, saya ingin selalu bersama mereka semua di kediaman kami. Saya tidak ingin terus-terusan meninggalkan indahnya kebersamaan bersama keluarga.

Rabu, 20 Oktober 2010

Saya Blogger Sombong

Ketidaksengajaan menelusuri berbagai laman yang saya miliki, dan rasa penasaran akan eksistensi saya di sebuah mesin pencari, seketika saya dikagetkan oleh sebuah fakta bahwa blog yang saya buat telah dibaca oleh beberapa orang asing, dan mereka berasumsi bahwa saya adalah termasuk seorang blogger sombong berdasarkan tulisan-tulisan yang sudah saya publikasikan di blog yang saya buat sendiri.

http://www.cari-info.co.cc/search/Cerita+Saya+Ketemu+Blogger+Sombong

Walau tidak penting untuk saya menanggapi hal itu, namun saya ingin sedikit mengklarifikasi bahwa tujuan saya membuat blog adalah untuk mencurahkan beberapa pemikiran, kebanggaan terhadap diri, keluh kesah, dan pandangan bodoh saya (oleh karena itu saya menyebut diri saya pandir) lewat sebuah ‘wahana’ yang dapat didekorasi sedemikian rupa sehingga menyerupai apa yang pikiran saya inginkan.
Apabila ada yang berkenan mengunjungi laman ini, saya terimakasih.
Namun betapa masokis (atau mungkin sadis) orang-orang yang langsung menghakimi tanpa melakukan ‘close reading’ terlebih dahulu atas teks-teks yang mereka temukan.

Di satu sisi, tak terelakkan kalau saya sakit hati, namun di sisi lain, saya memang pantas masuk ke dalam keluarga SOS.

Kamis, 30 September 2010

Solid, Olrait, Sombong KKNM Kertasari 2010 (Part 3)

Saya bangun pukul 04.00 WIB di hari ketujuh (07/07), hari piket saya bersama Cucu, C’bows, Asep, Thorry dan Ryan. Saya bergegas mandi, mencuci pakaian, dan kemudian shalat subuh. Setelah merapikan diri, Cucu dan C’bows pun dibangunkan, kemudian saya menuju kamar atas untuk membangunkan tiga anggota lainnya sambil menjemur pakaian yang tadi saya cuci. Hari pertama piket, saya ingin membuat masakan yang sederhana dan mengenyangkan, masakan yang sering saya buat bersama teman-teman sepermainan di rumah, bakso aci. Saya menguleni adonan hingga siap untuk dibentuk. Seni membuat bakso aci yang paling menonjol adalah kebersamaan ketika proses pembentukan. Adonan yang dibuat cukup banyak, tidak semuanya dijadikan sayur. Sebagian adonan dimanfaatkan oleh Ruddy, Opik dan para pria lainnya untuk berkreasi membuat cireng beraneka rupa. Bentuk cangkir, peluit, kue tambang, hingga feses unyu ( lucu) pun siap untuk digoreng. Sayur bakso aci dihidangkan bersama tahu goreng dan saos sambal sebagai menu brunch.

Setelah perut kenyang, kondisi ruangan di rumah sudah disapu dan dipel, piring sudah dicuci, dan penampilan sudah rapi, kami bersiap untuk menghadapi kesibukkan di hari Rabu yang spesial bagi PJ Seni dan Budaya. Hari itu bertepatan dengan Rajaban, Anggra mengusulkan mengadakan lomba-lomba keagamaan. Hadiah-hadiah bagi para peserta dan pemenang sudah dipersiapkan dari hari keempat kami disana. Lomba-lombanya pun sudah dikonsep sedemikian rupa dari jauh-jauh hari. Siang itu kami berangkat menuju mesjid di dekat rumah Pak Kuwu dengan didahului ‘tos olrait’ untuk pertama kalinya atas inspirasi dari Asni.Sebagian dari kami mempersiapkan ruangan dan properties yang akan digunakan untuk lomba, dan sebagian lagi menunggu waktu pelaksanaan lomba di rumah lain milik keluarga Pak Kuwu. Warga di Desa Kertasari sangat ramah kepada kami. Berbagai suguhan tidak sungkan-sungkan mereka keluarkan, dan kami pun tidak malu-malu untuk segera menghabiskan suguhan tersebut. Begitulah kami, para pemusnah makanan. Dimana pun kami singgah, makanan dengan cepat ludes tak bersisa.

Acara Seni dan Budaya terbilang sangat sukses. Para warga (khususnya anak-anak) sangat antusias untuk turut serta memeriahkan setiap lomba seperti kaligrafi, adzan, dan membaca Al-Quran dengan nada-nada elok. Tidak hanya warga dusun Leuwipicung, warga (anak-anak) dari dusun Sirnagalih pun ikut ambil bagian. Walau lelah, namun kami merasa sangat puas dan berbangga atas hasil kerja keras anggota yang dipimpin oleh Anggra. Tidak salah kami memilih dia sebagai PJ Seni dan Budaya. Kami pulang dengan badan lemas namun hati senang. Tim piket RATU (Rabu-Sabtu) kembali mempersiapkan bahan-bahan masakan untuk hidangan makan malam.

Pukul 08.00 sebagian dari kami pergi mengunjungi rumah Pak Oneng. Beliau adalah orang yang cukup berpengaruh di SDN Leuwipicung. Saya dan Ryan berbincang sekaligus meminta ijin untuk ikut mengajar, tidak lupa Nadya dan C’bows dari tim kesehatan juga meminta ijin untuk mengadakan sanitasi kesehatan di SDN tersebut. Seperti Perangkat Kecamatan, Staf SMPN Satu Atap 5 Cipatujah, dan Perangkat Desa, Pak Oneng pun menyambut baik niat kami.

Keesokan harinya (08/07), tim kesehatan bekerjasama dengan ibu bidan dusun Leuwipicung, yang kebetulan akan melaksanakan imunisasi, membuat acara penyuluhan imunisasi yang diselenggarakan di rumah ibu bidan. Dalam kegiatan itu, hanya tim kesehatan (Nadya, Asni, Nemo, Ira, C’bows, dan Hellen) -yang dibantu oleh Bunga sebagai MC- saja yang ambil bagian. Sisa anggota beristirahat di rumah. Kebetulan hari kamis itu saya sudah memiliki janji dengan Pak Oneng di SDN Leuwipicung untuk membicarakan kegiatan belajar-mengajar tim KKNM di SD. Walau janji bertemu pukul 10.00, saya sudah mandi dan rapi beberapa jam sebelumnya. Daripada tidak melakukan apapun di rumah, saya memutuskan untuk pergi bersama tim kesehatan dan Bunga ke rumah ibu bidan.

Kinerja Tim Kesehatan membantu ibu Bidan pada hari itu sungguh tampak cekatan. Nadya sebagai gegeduk kesehatan dengan telaten mencatat setiap informasi tentang ibu dan anak di bagian pendaftaran, Asni dan Nemo membantu ibu dan bayi memeriksa perkembangan Berat Badan dan Tinggi badan mereka, khususnya para bayi dan balita. Anggota lainnya (Ira, Hellen, C’bows) membantu ibu bidan memeriksa ibu hamil dan memberikan imunisasi kepada para malaikat kecil berwajah innocent. Daripada hanya duduk dan memperhatikan saja, saya meminta ijin kepada tim kesehatan untuk menjadi pubdok (publikasi dan dokumentasi) pada kegiatan tersebut. Ketika Nadya ingin memulai penyuluhan, suasana pada saat itu tidak terkendali sekali. Ibu-ibu sedang sibuk mengurus arisan yang digelar bersamaan dengan selesainya imunisasi.

Saya dan bunga pamit terlebih dahulu karena kami harus bertemu dengan Pak Oneng di SDN Leuwipicung untuk membicarakan lebih lanjut program KKNM bidang pendidikan disana. Kondisi SDN Leuwipicung terbilang cukum mengkhawatirkan. Ada 5 kelas disana, satu kelas dipakai secara bergiliran oleh murid-murid kelas 1 dan 2, satu kelas disampingnya khusus dipakai untuk kelas 3. Suasana kedua kelas tersebut menurut saya sangat tidak kondusif untuk belajar. Ruangan kelas 4, 5, dan 6 seperti baru direnovasi. Ketiga ruangan tersebut jauh lebih bagus dibandingkan semua ruangan di SDN itu. Ada sebuah ruangan kosong, pak Oneng berkata bahwa dulu ruangan itu digunakan sebagai ruang kesehatan. Sayangnya, gempa besar yang melanda kota Tasik dan sekitarnya membuat sebagian besar ruangan tersebut rusak parah dan tidak layak untuk dipakai lagi. Sebuah perpustakaan kecil yang ada di SDN Leuwipicung memiliki koleksi buku dan alat peraga pembelajaran yang cukup komplit, mungkin perlu sedikit penataan sehingga bisa membuat murid-murid betah berlama-lama disana. Jenis tanah disana adalah termasuk tanah merah yang kurang ditumbuhi rerumputan yang apabila diguyur oleh hujan, maka tanah tersebut akan sangat becek. Pak Oneng pun berkata kalau di SDN Leuwipicung jarang mengadakan upacara bendera ketika musim hujan. Selain melakukan survey, saya dan bunga juga melihat jadwal pelajaran yang sudah diatur kurikulum sekolah sekaligus meminta modul setiap mata pelajaran yang akan kami ajarkan selama program pendidikan di SDN Leuwipicung.
Di hari ke sembilan, tim kesehatan melanjutkan penyuluhan ke Sirnagalih. Hanya beberapa orang yang pergi, sisa anggota yang ada di rumah tidak melakukan kegiatan berdasarkan program. Kami bercengkrama, becanda, beres-beres rumah, nonton, makan dan tidur, itulah kegiatan rutin yang sering kami lakukan di rumah. 

Esoknya, ada undangan yang diberikan oleh Punduh Sirnagalih. Beliau meminta kami untuk datang ke Madrasah disana dalam rangka perpisahan anak didik madrasah tersebut. Kelompok dibagi menjadi 2. Kelompok satu yang terdiri dari Badi, Nemo, Cucu, Mei, Anggra, Opik, Ryan dan Nadya ditugaskan untuk berbelanja barang-barang kebutuhan kami, terutama konsumsi ke Tasik kota. Duabelas lainnya mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju Sirnagalih nanti siang. Sangat luar biasa, saya pikir medan yang harus kami tempuh untuk sampai ke dusun Sirnagalih tidak akan sehebat ini. Jalanan yang penuh dengan rintangan, becek, banyak turunan dan tanjakan, dan masih banyak lagi kejutan yang kami temukan selama perjalanan. Saya sempat menyerah dan hampir tumbang ketika kami menaiki bukit curam, namun ketika sampai puncak, rasa lelah sedikit terobati oleh panorama yang jarang saya lihat di daerah perkotaan. Bentangan sawah dan udara yang cerah membuat semangat saya kembali lagi. Perjalanan panjang tersebut lebih berkesan bagi saya karena dalam perjalanan itu, kacamata saya rusak dan penglihatan saya buram selama sisa waktu KKNM di kertasari, tanpa kacamata.

Rabu, 22 September 2010

SASTRA VS LINGUISTIK

Hari ini (24/08) adalah gerbang menuju perkuliahan tingkat empat. tidak terasa, saya sudah menjadi angkatan tertua (2004-2006 tidak dihitung) dan memiliki tiga junior di kampus. Pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) kali ini memiliki sensasi yang jauh berbeda dari pengisian KRS semester-semester sebelumnya. Saya (angkatan 2007) sudah diharuskan untuk memilih pengutamaan atau minat yang telah ditentukan sejak Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris dibangun. Ada dua pengutamaan dalam pembelajaran di Sastra. Linguistik dan Sastra. Kedua kata tersebut sudah mewakili definisi dan isi yang akan kita temukan didalamnya. Linguistik lebih mengacu kepada tata bahasa seperti phonetik, fonologi, semantik, pragmatik, sintaksis, dan ada pula penerjemahan (translation), sedangkan sastra mengutamakan karya sastra seperti novel, puisi, drama, atau teks yang harus dianalisa oleh para peminatnya.

Saya belum siap untuk memilih, tapi program para petinggi kampus memaksa saya untuk bergegas menentukan pilihan. Dari awal perkuliahan di kampus biru, saya lebih condong ke pengutamaan sastra. Ada dua alasan yang saya miliki; pertama, saya senang membaca karya sastra. Membaca adalah salah satu hobi yang paling menyenangkan bagi saya selain memasak, menonton dan menulis. Kedua, kebanyakan teman senior saya di Sastra Inggris dari angkatan 2006 kebawah masuk pengutamaan Sastra. Sayangnya, ada tiga alasan saya belum siap memilih mengambil pengutamaan Sastra; pertama, hobi saya memang membaca, akan tetapi bacaan yang saya punya adalah termasuk bacaan yang dapat dikonsumsi oleh umat manusia yang memiliki tingkat intelegensia standar. Selain itu, kebanyakan atau hampir semua bacaan saya menggunakan bahasa Indonesia. Ketika semester 5 saya mendapatkan mata kuliah further Studies in Prose, saya diberikan beberapa karya sastra novel berbahasa Inggris oleh dosen. Tidak ada satupun dari semua novel yang dia berikan beres saya baca. Saya terlanjur bosan dan pusing melihat berbagai macam kata-kata yang tidak familiar. Kedua, hampir semua teman-teman senior saya lulus tidak tepat waktu. Padahal saya yakin mereka mempunyai kemampuan yang sangat lebih dari saya, jauh di tingkat atas. Hanya ada satu orang senior 2006 bernama Aditya Eko Adriyanto yang dengan beruntungnya lulus tepat waktu (4 tahun). Alasan terakhir, saya sering menyimak dan memperhatikan bahwa semua dosen pengutamaan Sastra adalah tipikal orang-orang yang memiliki kepintaran berlebih. Kepintaran yang jauh diatas rata-rata membuat mereka banyak berulah, dan mahasiswa merekalah yang menjadi korban. Para mahasiswa ynag memiliki iman yang lemah dapat terpengaruh atau terdoktrin oleh perkataan dosen-dosen mereka di kelas, dan akhirnya menjadi pengikut setia.

Alasan-alasan tersebut membuat saya ragu untuk masuk pengutamaan Sastra. Ditambah oleh hasutan teman-teman 2006 yang sudah memiliki asam garam kehidupan disana sebelum saya. Banyak sekali penderitaan yang mereka ceritakan kepada saya baik secara langsung maupun secara tersirat. Saya semakin takut mengadapi keangkeran Sastra. Di sisi lain, saya juga tidak mau dicap sebagai seorang pengecut, hanya karena ketakutan dan cap angker yang dimiliki Sastra dan cerita orang-orang berpengalaman namun saya belum membuktikan sendiri, saya berpaling ke Linguistik. Malam-malam sebelum pengisian KRS, saya sudah berencana untuk melakukan shalat istikharah. Akdir berkehendak lain, saya kedatangan tamu rutin setiap bulan. Alhasil saya hanya bisa berdoa sebelum tidur agar tuhan saya memberikan petunjuk di dalam mimpi. Hasilnya masih samar-samar.

Di jam brunch, ketika saya sudah mendapatkan lembaran KRS dan daftar jadwal, saya belum berani menyalin semua mata kuliah pengutamaan Sastra. Hanya pandangan hampa yang saya berikan kepada lembaran tersebut selama beberapa lama. Setelah berpikir lama, saya yakin kalau saya seorang yang teguh pada pendirian, saya yakin saya bukan seorang pengecut, saya yakin saya bisa menghadapi semua kesulitan yang mungkin akan saya temui nanti, saya yakin pilihan yang saya ambil bukan karena saya terpengaruh dan ikut-ikutan teman-teman yang sudah senior. Sastra atau linguistik sama saja, hanya individu sendiri yang bisa menentukan apakah itu sulit atau tidak. Jika memang sastra sesulit dan lebih sulit dari linguistik, saya haya perlu meningkatkan tingkat kerajinan dan kemampuan saya. Intinya, jangan malas, belajar untuk sabar dan ikhlas.

Keyakinan saya sudah meningkat, sebelum pudar kembali, saya mengisi KRS dengan mata kuliah-mata kuliah pengutamaan Sastra. YA, SAYA MEMILIH SASTRA !

Selasa, 24 Agustus 2010

Ketika Jatuh Hati

Perasaan terlarang itu hanya singgah sebentar. Seperti kasus-kasus sebelumnya, dengan mudah saya bisa jatuh hati, dan dengan sangat mudah saya bisa melupakan bahwa saya pernah merasakan jatuh hati pula. Tinggal menunggu efek lanjutan yang sedikit saya harapkan. 

Akan saya ceritakan mengenai secuil kebiasaan apabila saya sedang merasakan jatuh hati kepada seorang pria. Pertama-tama, saya menganggap blog ini adalah privasi yang jarang sekali teman-teman saya kunjungi, tidak seperti facebook maupun twitter. Jadi saya bisa sedikit lebih terbuka sekaligus belajar memperbaiki struktur bahasa saya yang sedikit banyak sudah terkontaminasi oleh modernisasi.

Ketika jatuh hati
Saya tidak terlalu memperhatikan bagaimana sempurnanya fisik sang pria. Yang menjadi catatan utama adalah, saya bisa nyaman dan senang melihat dan berada lama-lama disampingnya.

Ketika jatuh hati
Seluruh pikiran saya terpusat kepada dia. Konsentrasi terpecah, keseharian hanya terus membayangkannya, dan apa yang pernah kami lalui bersama.

Ketika jatuh hati
Saya merenung tentang hal-hal bodoh yang pernah saya perbuat dihadapan dia sehingga membuat saya malu dan tidak berani mengingat untuk kesekian kalinya.

Ketika jatuh hati
Saya sangat suka berbicara sendiri, seolah ada dia disamping diri, menjadi teman mengobrol sepanjang waktu yang saya lalui.

Ketika jatuh hati
Perasaan dipenuhi kerinduan yang teramat mendalam, ingin mencoba berhubungan dengan menggunakan alat telekomunikasi, atau bahkan hanya telepati.

Ketika jatuh hati
Selalu terbayang apabila kami kelak hidup berdua, duduk berdampingan, bersenda gurau, memakan masakan hasil bersama, atau bahkan marah dalam lingkup kemanjaan.

Ketika jatuh hati
Saya tidak dapat melakukan banyak tingkah dihadapannya. Lebih memilih diam dan banyak tertunduk karena malu.

Ketika jatuh hati
Sifat malu merangsang keringat-keringat kecil dibawah mata untuk semakin sering keluar, sehingga gesture tangan saya kebanyakan menutup wajah, mengelap keringat dibawah mata.

Ketika jatuh hati
Seringnya saya mendengar lagu-lagu yang memicu saya untuk semakin mengingat dia.

Ketika jatuh hati
Ingin selalu berbagi cerita bersama teman maupun orangtua wanita akan apa adanya pria yang saya suka secara berkala sampai mereka bosan mendengarkannya.

Namun
apabila rasa itu telah tiada,
Saya sudah mampu menatap dia ketika berbicara, memperlihatkan gesture seperti halnya teman biasa yang tidak menjaga sikap dan lebih terbuka.

Apabila rasa itu telah tiada,
Rasa malu seakan dimakan waktu sepenuhnya, tak bersisa. Dia tidak lagi sempurna di mata saya, hanya seorang pria biasa.

Apabila rasa itu telah tiada,
Kami malah semakin dekat, komunikasi semakin akrab, dia semakin peduli akan eksistensi saya pribadi.

Sayangnya, rasa itu telah tiada. Respon yang saya tunggu dari dia tak kunjung tiba hingga hati saya kembali diletakkan ditempatnya.