Senin, 22 November 2010

Rumahku, Keluargaku, Surgaku

Setelah 2 bulan merasakan 'penyiksaan' yang selalu saya coba untuk menikmatinya, akhirnya saya pulang ke rumah, tempat tinggal yang paling nyaman, tenang dan indah. zona yang paling nyaman yang saya miliki. 9 hari disana cukup membuat saya lebih tenang, walau kerjaan saya hanya diam di rumah, bersih-bersih sebisanya, dan ngobrol serta bermain bersama keluarga.
Saya merupakan tipe orang yang tidak suka keluyuran, rumah keluarga saya sungguh terlalu sayang apabila harus terus ditinggalkan. Kenyamanan yang tiada tara yang dimiliki oleh rumah saya, belum ada yang bisa menandinginya.
kemarin saya rutin pergi ke villa keluarga yang kami sebut Joglo. Joglo ini bukan rumah adat, kami menyebutnya Joglo karena villa tersebut dibangun di daerah Joglo, Pameungpeuk-Garut.






















Saat ini, saya ingin selalu bersama mereka semua di kediaman kami. Saya tidak ingin terus-terusan meninggalkan indahnya kebersamaan bersama keluarga.

Rabu, 20 Oktober 2010

Saya Blogger Sombong

Ketidaksengajaan menelusuri berbagai laman yang saya miliki, dan rasa penasaran akan eksistensi saya di sebuah mesin pencari, seketika saya dikagetkan oleh sebuah fakta bahwa blog yang saya buat telah dibaca oleh beberapa orang asing, dan mereka berasumsi bahwa saya adalah termasuk seorang blogger sombong berdasarkan tulisan-tulisan yang sudah saya publikasikan di blog yang saya buat sendiri.

http://www.cari-info.co.cc/search/Cerita+Saya+Ketemu+Blogger+Sombong

Walau tidak penting untuk saya menanggapi hal itu, namun saya ingin sedikit mengklarifikasi bahwa tujuan saya membuat blog adalah untuk mencurahkan beberapa pemikiran, kebanggaan terhadap diri, keluh kesah, dan pandangan bodoh saya (oleh karena itu saya menyebut diri saya pandir) lewat sebuah ‘wahana’ yang dapat didekorasi sedemikian rupa sehingga menyerupai apa yang pikiran saya inginkan.
Apabila ada yang berkenan mengunjungi laman ini, saya terimakasih.
Namun betapa masokis (atau mungkin sadis) orang-orang yang langsung menghakimi tanpa melakukan ‘close reading’ terlebih dahulu atas teks-teks yang mereka temukan.

Di satu sisi, tak terelakkan kalau saya sakit hati, namun di sisi lain, saya memang pantas masuk ke dalam keluarga SOS.

Kamis, 30 September 2010

Solid, Olrait, Sombong KKNM Kertasari 2010 (Part 3)

Saya bangun pukul 04.00 WIB di hari ketujuh (07/07), hari piket saya bersama Cucu, C’bows, Asep, Thorry dan Ryan. Saya bergegas mandi, mencuci pakaian, dan kemudian shalat subuh. Setelah merapikan diri, Cucu dan C’bows pun dibangunkan, kemudian saya menuju kamar atas untuk membangunkan tiga anggota lainnya sambil menjemur pakaian yang tadi saya cuci. Hari pertama piket, saya ingin membuat masakan yang sederhana dan mengenyangkan, masakan yang sering saya buat bersama teman-teman sepermainan di rumah, bakso aci. Saya menguleni adonan hingga siap untuk dibentuk. Seni membuat bakso aci yang paling menonjol adalah kebersamaan ketika proses pembentukan. Adonan yang dibuat cukup banyak, tidak semuanya dijadikan sayur. Sebagian adonan dimanfaatkan oleh Ruddy, Opik dan para pria lainnya untuk berkreasi membuat cireng beraneka rupa. Bentuk cangkir, peluit, kue tambang, hingga feses unyu ( lucu) pun siap untuk digoreng. Sayur bakso aci dihidangkan bersama tahu goreng dan saos sambal sebagai menu brunch.

Setelah perut kenyang, kondisi ruangan di rumah sudah disapu dan dipel, piring sudah dicuci, dan penampilan sudah rapi, kami bersiap untuk menghadapi kesibukkan di hari Rabu yang spesial bagi PJ Seni dan Budaya. Hari itu bertepatan dengan Rajaban, Anggra mengusulkan mengadakan lomba-lomba keagamaan. Hadiah-hadiah bagi para peserta dan pemenang sudah dipersiapkan dari hari keempat kami disana. Lomba-lombanya pun sudah dikonsep sedemikian rupa dari jauh-jauh hari. Siang itu kami berangkat menuju mesjid di dekat rumah Pak Kuwu dengan didahului ‘tos olrait’ untuk pertama kalinya atas inspirasi dari Asni.Sebagian dari kami mempersiapkan ruangan dan properties yang akan digunakan untuk lomba, dan sebagian lagi menunggu waktu pelaksanaan lomba di rumah lain milik keluarga Pak Kuwu. Warga di Desa Kertasari sangat ramah kepada kami. Berbagai suguhan tidak sungkan-sungkan mereka keluarkan, dan kami pun tidak malu-malu untuk segera menghabiskan suguhan tersebut. Begitulah kami, para pemusnah makanan. Dimana pun kami singgah, makanan dengan cepat ludes tak bersisa.

Acara Seni dan Budaya terbilang sangat sukses. Para warga (khususnya anak-anak) sangat antusias untuk turut serta memeriahkan setiap lomba seperti kaligrafi, adzan, dan membaca Al-Quran dengan nada-nada elok. Tidak hanya warga dusun Leuwipicung, warga (anak-anak) dari dusun Sirnagalih pun ikut ambil bagian. Walau lelah, namun kami merasa sangat puas dan berbangga atas hasil kerja keras anggota yang dipimpin oleh Anggra. Tidak salah kami memilih dia sebagai PJ Seni dan Budaya. Kami pulang dengan badan lemas namun hati senang. Tim piket RATU (Rabu-Sabtu) kembali mempersiapkan bahan-bahan masakan untuk hidangan makan malam.

Pukul 08.00 sebagian dari kami pergi mengunjungi rumah Pak Oneng. Beliau adalah orang yang cukup berpengaruh di SDN Leuwipicung. Saya dan Ryan berbincang sekaligus meminta ijin untuk ikut mengajar, tidak lupa Nadya dan C’bows dari tim kesehatan juga meminta ijin untuk mengadakan sanitasi kesehatan di SDN tersebut. Seperti Perangkat Kecamatan, Staf SMPN Satu Atap 5 Cipatujah, dan Perangkat Desa, Pak Oneng pun menyambut baik niat kami.

Keesokan harinya (08/07), tim kesehatan bekerjasama dengan ibu bidan dusun Leuwipicung, yang kebetulan akan melaksanakan imunisasi, membuat acara penyuluhan imunisasi yang diselenggarakan di rumah ibu bidan. Dalam kegiatan itu, hanya tim kesehatan (Nadya, Asni, Nemo, Ira, C’bows, dan Hellen) -yang dibantu oleh Bunga sebagai MC- saja yang ambil bagian. Sisa anggota beristirahat di rumah. Kebetulan hari kamis itu saya sudah memiliki janji dengan Pak Oneng di SDN Leuwipicung untuk membicarakan kegiatan belajar-mengajar tim KKNM di SD. Walau janji bertemu pukul 10.00, saya sudah mandi dan rapi beberapa jam sebelumnya. Daripada tidak melakukan apapun di rumah, saya memutuskan untuk pergi bersama tim kesehatan dan Bunga ke rumah ibu bidan.

Kinerja Tim Kesehatan membantu ibu Bidan pada hari itu sungguh tampak cekatan. Nadya sebagai gegeduk kesehatan dengan telaten mencatat setiap informasi tentang ibu dan anak di bagian pendaftaran, Asni dan Nemo membantu ibu dan bayi memeriksa perkembangan Berat Badan dan Tinggi badan mereka, khususnya para bayi dan balita. Anggota lainnya (Ira, Hellen, C’bows) membantu ibu bidan memeriksa ibu hamil dan memberikan imunisasi kepada para malaikat kecil berwajah innocent. Daripada hanya duduk dan memperhatikan saja, saya meminta ijin kepada tim kesehatan untuk menjadi pubdok (publikasi dan dokumentasi) pada kegiatan tersebut. Ketika Nadya ingin memulai penyuluhan, suasana pada saat itu tidak terkendali sekali. Ibu-ibu sedang sibuk mengurus arisan yang digelar bersamaan dengan selesainya imunisasi.

Saya dan bunga pamit terlebih dahulu karena kami harus bertemu dengan Pak Oneng di SDN Leuwipicung untuk membicarakan lebih lanjut program KKNM bidang pendidikan disana. Kondisi SDN Leuwipicung terbilang cukum mengkhawatirkan. Ada 5 kelas disana, satu kelas dipakai secara bergiliran oleh murid-murid kelas 1 dan 2, satu kelas disampingnya khusus dipakai untuk kelas 3. Suasana kedua kelas tersebut menurut saya sangat tidak kondusif untuk belajar. Ruangan kelas 4, 5, dan 6 seperti baru direnovasi. Ketiga ruangan tersebut jauh lebih bagus dibandingkan semua ruangan di SDN itu. Ada sebuah ruangan kosong, pak Oneng berkata bahwa dulu ruangan itu digunakan sebagai ruang kesehatan. Sayangnya, gempa besar yang melanda kota Tasik dan sekitarnya membuat sebagian besar ruangan tersebut rusak parah dan tidak layak untuk dipakai lagi. Sebuah perpustakaan kecil yang ada di SDN Leuwipicung memiliki koleksi buku dan alat peraga pembelajaran yang cukup komplit, mungkin perlu sedikit penataan sehingga bisa membuat murid-murid betah berlama-lama disana. Jenis tanah disana adalah termasuk tanah merah yang kurang ditumbuhi rerumputan yang apabila diguyur oleh hujan, maka tanah tersebut akan sangat becek. Pak Oneng pun berkata kalau di SDN Leuwipicung jarang mengadakan upacara bendera ketika musim hujan. Selain melakukan survey, saya dan bunga juga melihat jadwal pelajaran yang sudah diatur kurikulum sekolah sekaligus meminta modul setiap mata pelajaran yang akan kami ajarkan selama program pendidikan di SDN Leuwipicung.
Di hari ke sembilan, tim kesehatan melanjutkan penyuluhan ke Sirnagalih. Hanya beberapa orang yang pergi, sisa anggota yang ada di rumah tidak melakukan kegiatan berdasarkan program. Kami bercengkrama, becanda, beres-beres rumah, nonton, makan dan tidur, itulah kegiatan rutin yang sering kami lakukan di rumah. 

Esoknya, ada undangan yang diberikan oleh Punduh Sirnagalih. Beliau meminta kami untuk datang ke Madrasah disana dalam rangka perpisahan anak didik madrasah tersebut. Kelompok dibagi menjadi 2. Kelompok satu yang terdiri dari Badi, Nemo, Cucu, Mei, Anggra, Opik, Ryan dan Nadya ditugaskan untuk berbelanja barang-barang kebutuhan kami, terutama konsumsi ke Tasik kota. Duabelas lainnya mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju Sirnagalih nanti siang. Sangat luar biasa, saya pikir medan yang harus kami tempuh untuk sampai ke dusun Sirnagalih tidak akan sehebat ini. Jalanan yang penuh dengan rintangan, becek, banyak turunan dan tanjakan, dan masih banyak lagi kejutan yang kami temukan selama perjalanan. Saya sempat menyerah dan hampir tumbang ketika kami menaiki bukit curam, namun ketika sampai puncak, rasa lelah sedikit terobati oleh panorama yang jarang saya lihat di daerah perkotaan. Bentangan sawah dan udara yang cerah membuat semangat saya kembali lagi. Perjalanan panjang tersebut lebih berkesan bagi saya karena dalam perjalanan itu, kacamata saya rusak dan penglihatan saya buram selama sisa waktu KKNM di kertasari, tanpa kacamata.

Rabu, 22 September 2010

SASTRA VS LINGUISTIK

Hari ini (24/08) adalah gerbang menuju perkuliahan tingkat empat. tidak terasa, saya sudah menjadi angkatan tertua (2004-2006 tidak dihitung) dan memiliki tiga junior di kampus. Pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) kali ini memiliki sensasi yang jauh berbeda dari pengisian KRS semester-semester sebelumnya. Saya (angkatan 2007) sudah diharuskan untuk memilih pengutamaan atau minat yang telah ditentukan sejak Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris dibangun. Ada dua pengutamaan dalam pembelajaran di Sastra. Linguistik dan Sastra. Kedua kata tersebut sudah mewakili definisi dan isi yang akan kita temukan didalamnya. Linguistik lebih mengacu kepada tata bahasa seperti phonetik, fonologi, semantik, pragmatik, sintaksis, dan ada pula penerjemahan (translation), sedangkan sastra mengutamakan karya sastra seperti novel, puisi, drama, atau teks yang harus dianalisa oleh para peminatnya.

Saya belum siap untuk memilih, tapi program para petinggi kampus memaksa saya untuk bergegas menentukan pilihan. Dari awal perkuliahan di kampus biru, saya lebih condong ke pengutamaan sastra. Ada dua alasan yang saya miliki; pertama, saya senang membaca karya sastra. Membaca adalah salah satu hobi yang paling menyenangkan bagi saya selain memasak, menonton dan menulis. Kedua, kebanyakan teman senior saya di Sastra Inggris dari angkatan 2006 kebawah masuk pengutamaan Sastra. Sayangnya, ada tiga alasan saya belum siap memilih mengambil pengutamaan Sastra; pertama, hobi saya memang membaca, akan tetapi bacaan yang saya punya adalah termasuk bacaan yang dapat dikonsumsi oleh umat manusia yang memiliki tingkat intelegensia standar. Selain itu, kebanyakan atau hampir semua bacaan saya menggunakan bahasa Indonesia. Ketika semester 5 saya mendapatkan mata kuliah further Studies in Prose, saya diberikan beberapa karya sastra novel berbahasa Inggris oleh dosen. Tidak ada satupun dari semua novel yang dia berikan beres saya baca. Saya terlanjur bosan dan pusing melihat berbagai macam kata-kata yang tidak familiar. Kedua, hampir semua teman-teman senior saya lulus tidak tepat waktu. Padahal saya yakin mereka mempunyai kemampuan yang sangat lebih dari saya, jauh di tingkat atas. Hanya ada satu orang senior 2006 bernama Aditya Eko Adriyanto yang dengan beruntungnya lulus tepat waktu (4 tahun). Alasan terakhir, saya sering menyimak dan memperhatikan bahwa semua dosen pengutamaan Sastra adalah tipikal orang-orang yang memiliki kepintaran berlebih. Kepintaran yang jauh diatas rata-rata membuat mereka banyak berulah, dan mahasiswa merekalah yang menjadi korban. Para mahasiswa ynag memiliki iman yang lemah dapat terpengaruh atau terdoktrin oleh perkataan dosen-dosen mereka di kelas, dan akhirnya menjadi pengikut setia.

Alasan-alasan tersebut membuat saya ragu untuk masuk pengutamaan Sastra. Ditambah oleh hasutan teman-teman 2006 yang sudah memiliki asam garam kehidupan disana sebelum saya. Banyak sekali penderitaan yang mereka ceritakan kepada saya baik secara langsung maupun secara tersirat. Saya semakin takut mengadapi keangkeran Sastra. Di sisi lain, saya juga tidak mau dicap sebagai seorang pengecut, hanya karena ketakutan dan cap angker yang dimiliki Sastra dan cerita orang-orang berpengalaman namun saya belum membuktikan sendiri, saya berpaling ke Linguistik. Malam-malam sebelum pengisian KRS, saya sudah berencana untuk melakukan shalat istikharah. Akdir berkehendak lain, saya kedatangan tamu rutin setiap bulan. Alhasil saya hanya bisa berdoa sebelum tidur agar tuhan saya memberikan petunjuk di dalam mimpi. Hasilnya masih samar-samar.

Di jam brunch, ketika saya sudah mendapatkan lembaran KRS dan daftar jadwal, saya belum berani menyalin semua mata kuliah pengutamaan Sastra. Hanya pandangan hampa yang saya berikan kepada lembaran tersebut selama beberapa lama. Setelah berpikir lama, saya yakin kalau saya seorang yang teguh pada pendirian, saya yakin saya bukan seorang pengecut, saya yakin saya bisa menghadapi semua kesulitan yang mungkin akan saya temui nanti, saya yakin pilihan yang saya ambil bukan karena saya terpengaruh dan ikut-ikutan teman-teman yang sudah senior. Sastra atau linguistik sama saja, hanya individu sendiri yang bisa menentukan apakah itu sulit atau tidak. Jika memang sastra sesulit dan lebih sulit dari linguistik, saya haya perlu meningkatkan tingkat kerajinan dan kemampuan saya. Intinya, jangan malas, belajar untuk sabar dan ikhlas.

Keyakinan saya sudah meningkat, sebelum pudar kembali, saya mengisi KRS dengan mata kuliah-mata kuliah pengutamaan Sastra. YA, SAYA MEMILIH SASTRA !

Selasa, 24 Agustus 2010

Ketika Jatuh Hati

Perasaan terlarang itu hanya singgah sebentar. Seperti kasus-kasus sebelumnya, dengan mudah saya bisa jatuh hati, dan dengan sangat mudah saya bisa melupakan bahwa saya pernah merasakan jatuh hati pula. Tinggal menunggu efek lanjutan yang sedikit saya harapkan. 

Akan saya ceritakan mengenai secuil kebiasaan apabila saya sedang merasakan jatuh hati kepada seorang pria. Pertama-tama, saya menganggap blog ini adalah privasi yang jarang sekali teman-teman saya kunjungi, tidak seperti facebook maupun twitter. Jadi saya bisa sedikit lebih terbuka sekaligus belajar memperbaiki struktur bahasa saya yang sedikit banyak sudah terkontaminasi oleh modernisasi.

Ketika jatuh hati
Saya tidak terlalu memperhatikan bagaimana sempurnanya fisik sang pria. Yang menjadi catatan utama adalah, saya bisa nyaman dan senang melihat dan berada lama-lama disampingnya.

Ketika jatuh hati
Seluruh pikiran saya terpusat kepada dia. Konsentrasi terpecah, keseharian hanya terus membayangkannya, dan apa yang pernah kami lalui bersama.

Ketika jatuh hati
Saya merenung tentang hal-hal bodoh yang pernah saya perbuat dihadapan dia sehingga membuat saya malu dan tidak berani mengingat untuk kesekian kalinya.

Ketika jatuh hati
Saya sangat suka berbicara sendiri, seolah ada dia disamping diri, menjadi teman mengobrol sepanjang waktu yang saya lalui.

Ketika jatuh hati
Perasaan dipenuhi kerinduan yang teramat mendalam, ingin mencoba berhubungan dengan menggunakan alat telekomunikasi, atau bahkan hanya telepati.

Ketika jatuh hati
Selalu terbayang apabila kami kelak hidup berdua, duduk berdampingan, bersenda gurau, memakan masakan hasil bersama, atau bahkan marah dalam lingkup kemanjaan.

Ketika jatuh hati
Saya tidak dapat melakukan banyak tingkah dihadapannya. Lebih memilih diam dan banyak tertunduk karena malu.

Ketika jatuh hati
Sifat malu merangsang keringat-keringat kecil dibawah mata untuk semakin sering keluar, sehingga gesture tangan saya kebanyakan menutup wajah, mengelap keringat dibawah mata.

Ketika jatuh hati
Seringnya saya mendengar lagu-lagu yang memicu saya untuk semakin mengingat dia.

Ketika jatuh hati
Ingin selalu berbagi cerita bersama teman maupun orangtua wanita akan apa adanya pria yang saya suka secara berkala sampai mereka bosan mendengarkannya.

Namun
apabila rasa itu telah tiada,
Saya sudah mampu menatap dia ketika berbicara, memperlihatkan gesture seperti halnya teman biasa yang tidak menjaga sikap dan lebih terbuka.

Apabila rasa itu telah tiada,
Rasa malu seakan dimakan waktu sepenuhnya, tak bersisa. Dia tidak lagi sempurna di mata saya, hanya seorang pria biasa.

Apabila rasa itu telah tiada,
Kami malah semakin dekat, komunikasi semakin akrab, dia semakin peduli akan eksistensi saya pribadi.

Sayangnya, rasa itu telah tiada. Respon yang saya tunggu dari dia tak kunjung tiba hingga hati saya kembali diletakkan ditempatnya.

Jumat, 20 Agustus 2010

Solid, Olrait, Sombong KKNM Kertasari 2010 (Part 2)

Kami membutuhkan waktu kurang lebih 5-6 jam untuk bisa sampai ke Desa Kertasari. Di dalam bus nomor 69, saya duduk bersama Anggra. Anggra adalah teman Winnie, dan dia adalah orang pertama yang menyapa saya di jejaring sosial Facebook, berbasa-basi tentang kegiatan KKNM dan sedikit-sedikit membahas tentang Winnie; kemudian kami melanjutkan komunikasi lewat pesan singkat, saling bertanya tentang barang-barang yang akan dibawa untuk KKNM nanti, dan masih banyak lagi percakapan lainnya. Selama perjalanan, kami berbincang banyak hal, tentang ponsel, keluarga, dan banyak lagi. Genre musik yang kami sukai kebanyakan sama, oleh karena itu Anggra ‘merampok’ cukup banyak koleksi lagu yang saya miliki di ponsel. Setelah beberapa lama berbincang, Anggra tertidur, namun saya tidak dapat sedetik pun memejamkan mata meski malam sebelum keberangkatan saya hanya tidur selama satu jam. Saya hanya duduk termenung sambil melihat pemandangan diluar bus.

Cukup bosan melihat-lihat jalan, pandangan saya beralih pada dua orang lelaki yang duduk di barisan depan saya dan Anggra, mereka adalah Hendra dan Thorry. Dari pertemuan pertama hingga pertemuan-pertemuan berikutnya, saya tidak terlalu memperhatikan mereka. Bahkan saya pikir Hendra yang memiliki panggilan Ciha tidak datang di pertemuan pertama kami di Che.Co. Ketika kelompok kami memiliki group di Facebook, Ciha banyak berkomentar, begitu pula banyak komentar yang dia berikan di foto-foto hasil survey yang dilakukan tim pendahulu. Berbanding terbalik dengan ‘ke-cerewet-an’ dia di Facebook, Ciha menurut saya aslinya sangat diam. Dalam bus, dia duduk menggunakan penutup mata warna hitam, mengenakan headset, dan gesturenya menampakan bahwa dia menikmati lagu-lagu yang sedang dia dengarkan. Selaras dengan Ciha, sosok Thorry di mata saya sungguh sangat pendiam, lebih pendiam dari Ciha tepatnya. Dari pertemuan pertama, pembekalan, dan pertemuan selanjutnya, dia sangat minim berbicara, hanya menjadi penyimak. Walau demikian, Thorry selalu berusaha untuk mendekatkan diri dengan kami. Ketika awal pembekalan, dia duduk terpisah dengan kami (seperti Asni), namun seterusnya, Thorry ikut bergabung bersama barisan.

Hal menarik lainnya yang saya temui di dalam bus adalah ST12 dan kangen Band. Perjalanan yang kami tempuh menurut saya pribadi sangat berkesan karena diiringi oleh kedua band tersebut. Bukan apa-apa, saya mendengar banyak cerita dari teman-teman sekelas yang sudah melaksanakan KKNM di gelombang 1 bahwa selama KKNM, mereka jarang sekali mendengarkan suara Justin Bieber, Craig David, apalagi The Bird and The Bee. Musik andalan yang sering mereka dengarkan adalah Mau di Bawa Kemana (Armada), Keterlaluan (The Potters), Isabella (ST12), dan masih banyak lagi lagu dari band-band ternama di Indonesia. Ketika mendengarkan lagu-lagu ST12, saya tersenyum sendiri. Bukan karena saya sok Inggris dan meremehkan lagu-lagu tersebut, namun saya tersenyum karena kebenaran tentang cerita teman-teman saya terbukti di dalam bus nomor 69. Saya langsung telepon Risya, sahabat saya yang sangat bersemangat ketika menceritakan fenomena Band Indonesia di wilayah kegiatan KKNMnya di bulan Januari lalu. Dia juga tertawa puas ketika saya menceritakan pengalaman yang sama dengan dia.

Kurang lebih 4 jam sudah kami melakukan perjalanan, dikurangi waktu istirahat selama 20 menit. Rombongan bus berisi para mahasiswa yang melakukan kegiatan KKNM di daerah Tasikmalaya, tepatnya di daerah Cipatujah diturunkan di kantor kecamatan. Ada kejadian berkesan ketika kami tiba disana. Ketika perangkat kecamatan mulai mengomando para mahasiswa untuk berkumpul di aula, kelompok saya dengan sok tahu mengikuti rombongan yang masuk kedalam sebuah ruangan. Ternyata setelah ditelusuri, rombongan tersebut bukan pergi ke aula, tetapi ke toilet. Denganwajah polos kami keluar kembali dari ruangan itu dan duduk manis di aula. Disana kami disambut dengan baik oleh seluruh perangkat kecamatan.

Perjalanan dilanjutkan kembali, tapi tidak menggunakan bus nomor 69 lagi. Kelompok saya dijemput oleh pick up milik pak Kepala Desa Kertasari yang kemudian terkenal dengan sebutan Pak Kuwu. Dikarenakan kuota barang-barang yang kami bawa jauh lebih banyak daripada jumlah anggota satu kelompok, maka kami putuskan pemberangkatan dilakukan sebanyak 2 kloter. Kloter pertama adalah kloter barang-barang dan beberapa orang yang mengawasi. Saya termasuk kedalam kloter 2 bersama mayoritas anggota. kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil menunggu jemputan tiba. Opik, Nemo, dan Cucu pergi belanja sisa barang-barang yang dibutuhkan, sisanya (kalau tidak salah Saya, Asni, Mei, Ryan, Bunga, Ira, Anggra, Ruddy, Henly, Sahat dan Hellen) melanjutkan perjalanan. Setiap warga yang melihat kami berjalan, bertanya arah dan tujuan perjalanan kami. Ketika kami menyebut nama Kertasari, mereka sangat kaget. Dengan ekspresi wajah yang tampak shock, mereka bilang “KERTASARI ?! Masih salapan kilo deui, jang, ka Kertasari mah. Meuni kuatan mapah sajauh kitu!” Untungnya jemputan datang sebelum kami pesimis karena tidak sampai-sampai ke tempat tujuan. Sisa perjalanan yang dilalui membuat kami tertegun. Separah inikah jalan menuju tempat KKNM yang saya dan teman-teman pilih?

Setelah sampai di rumah yang disediakan pak Kuwu, saya mengucap syukur karena masih ada istana di tengah hutan seperti itu; namun dipinggir kanan dan kiri rumah, sangat minim sekali saya menemukan rumah tetangga. Setelah masuk kedalamnya, saya semakin merasa betah dan semakin bersyukur karena rumah tersebut sangat luas dan nyaman, akan tetapi kekecewaan mulai menjalar ketika saya sadari bahwa tidak ada sedikitpun jaringan yang dapat ditangkap oleh ponsel saya. Tidak mengapa. Ada 3 kamar di lantai bawah dan tiga kamar di lantai atas. Kaum perempuan menempati lantai bawah, saya sekamar bersama Henly, Icha, Nadya di sebuah kamar yang didalamnya ada kamar mandi.

Tim konsumsi segera beraksi, Nemo sang koki dari negeri Jiran mulai menunjukkan kebisaannya dalam mengolah makanan. Sebagian masih sibuk membereskan barang-barangnya, sebagian lagi menemani pak Cucu, berbincang, berceloteh sambil makan makanan kecil. Hari itu kami makan dengan menu sarden. Kenyang, dan saatnya membersihkan diri. Kamar mandi hanya 2 buah yang berfungsi, terpaksa kami menggunakan sistem ‘ngantri’, sehingga waktu yang dibutuhkan agar semua anggota bersih dan wangi menjadi lebih lama. Seusai beres-beres barang dan badan, kami bersiap untuk bersilaturahmi ke rumah pak Kuwu. Jarak antara rumah yang kami tempati hingga rumah pak Kuwu cukup jauh. Sepanjang jalan, kami bertemu dengan warga yang sedang bersantai di serambi rumah mereka masing-masing. Sapaan alakadarnya selalu terujar ketika kami bertemu dengan mereka.

Malam pertama di desa Kertasari, kami mengadakan rapat pertama. Didampingi oleh pak Cucu sebagai DPL, Ryan memimpin rapat itu. Kami membahas rencana program yang akan kami lakukan selama satu bulan di desa ini. Di dalam rapat tersebut saya -yang dibebani amanat menjadi bendahara- sedikit mengeluh tentang pengeluaran pertama yang jauh diluar dugaan. Untuk mengantisipasi adanya pengeluaran berlebih lagi, maka saya membuat peraturan kepada tiap divisi, pengeluaran kelompok kami dijatah sebanyak Rp.200.000/harinya. Jika melebihi jatah tersebut, maka pengeluaran hari berikutnya akan dikurangi sesuai dengan kelebihan pengeluaran di hari sebelumnya. Untungnya tidak ada yang protes atas peraturan yang bendahara buat. Selanjutnya dalam rapat pertama itu telah diputuskan bahwa program yang akan dilakukan selama satu bulan kami disana ada empat, yaitu dalam bidang Pendidikan, Pertanian, Kesehatan dan Seni Budaya. Kegiatan dalam tiap bidang ditentukan oleh tiap Penanggungjawab bidang yang akan ditunjuk keesokan harinya.

Menginjak hari kedua (02/07) kami disana, saya bangun lebih awal dari yang lain. Meski malam pertama disana saya tidur cukup nyenyak, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal saya untuk tidak tidur lebih lama. Melihat keadaan kamar mandi yang tak berpenghuni, saya memutuskan untuk mandi dan mencuci pakaian. Keuntungan bangun lebih awal yang saya rasakan diantaranya saya tidak usah lama mengantri dan saya pun bisa berlama-lama di kamar mandi. Pukul 08.00 kami pergi ke balai desa untuk meminta data desa sekalian berbincang-bincang. Dikarenakan pak Kuwu belum datang ke balai desa, Ryan, Cucu dan Nadya pergi ke rumah beliau. Pak Cucu berbincang dengan pak Sekdes didalam, dan kami para anggota berfoto dan becanda diluar. Banyaknya latar belakang daerah yang ada di kelompok kami merupakan sebuah peluang untuk saling belajar culture dan bahasa tiap daerah. Kami yang berada diluar balai desa sedikit-sedikit berbagi ilmu kebahasaan. Mayoritas kelompok KKNM Kertasari 2010 adalah warga Jawa Barat yang bisa berbahasa Sunda, walau ada juga anggota yang bukan berasal dari Jawa Barat dan hanya bisa menggunakan bahasa Sunda yang sedikit kasar. Mungkin yang tidak dapat berbahasa sunda dapat dihitung jari, seperti Hellen yang berasal dari Kepulauan Riau, fasih berbahasa mandarin dan masih memakai bahasa Indonesia baku dengan aksen mandarinnya di dalam percakapan sehari-hari. Nemo dan Asni yang berasal dari negeri Jiran, memiliki aksen bahasa melayu yang khas. Apabila mereka berdua berbincang, kami kurang bisa paham pembicaraan mereka. Timbul rasa penasaran dan timbul pula rasa ingin tahu sehingga kami semua ingin saling belajar bahasa setiap daerah (dan negara). Ada Ciha dan Sahat yang memiliki marga yang termashur di Medan. Sahat sudah lama menetap di Cimahi, sehingga dia masih bisa menggunakan bahasa Sunda walau agak kasar, sedangkan Ciha memiliki kosakata Sunda yang sangat minim, Ciha mengenal Sunda setelah dia menetap di Jatinangor. Otomatis bahasa Sunda yang dipelajarinya terpengaruh oleh kegaulan para mahasiswa Unpad yang berdomisili di Jatinangor juga, alias Sunda Prokem. Ada pula Icha c’bows yang berasal dari Cilegon, C’bows adalah tipe pengguna bahasa Sunda pasif. Dia paham ketika orang-orang berbicara menggunakan bahasa Sunda, namun kurang bisa berbahasa Sunda. Terakhir ada Thorry yang berasal dari Manado, namun tinggal lama di Tangerang. Saya mengetahui sedikit bahwa SD dan SMP di Depok dan Tangerang ada pembelajaran tentang bahasa Sunda. Thorry lebih tampak seperti anak gaul tangerang yang menggunakan ‘gue-elo’ dalam percakapan sehari-hari daripada anak gaul Manado. Walaupun orang-orang yang saya sebutkan diatas kurang mampu berbahasa Sunda, bukan berarti mereka tersisihkan dan memilih menjadi pendiam. Kami semua mencoba untuk berbaur bersama dan saling belajar selama masa KKNM dan mudah-mudahan berlanjut hingga kami tiba kembali di Jatinangor bahkan hingga waktu yang tak terbatas.

Pukul 10.00 kami kembali ke rumah. Setelah beristirahat dan makan, Pak Cucu pamit untuk pergi ke desa Padawaras. Pak Cucu berangkat, Kami mengadakan rapat lanjutan yang terbilang singkat dan tidak terlalu resmi seperti rapat malam kemarin. Rapat singkat tersebut hanya membahas dan menunjuk Penanggungjawab (PJ) tiap bidang yang sudah dibahas semalam. Dari bidang pendidikan, ada tiga calon PJ yang diusulkan. Mereka adalah saya, Taufik dan Badi yang dipilih karena basic kami berasal dari Fakultas Sastra. Para anggota menunjuk saya sebagai PJ, dan Ryan sebagai kordes berkata bahwa pilihannya pun berat ke saya. Agak ambigu sebenarnya perkataan Ryan itu, tapi setelah dipertimbangkan dan dipikirkan secara mendalam, saya bersedia mengemban tanggung jawab lainnya, selain sebagai bendahara yaitu PJ Pendidikan. Disusul oleh Henly yang berasal dari Fakultas Pertanian sebagai PJ Pertanian, Nadya dari Fakultas Kedokteran sebagai PJ Kesehatan, dan Anggra dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang memiliki suara bagus dan pandai bernyanyi sebagai PJ Seni dan Budaya.

Dalam rapat singkat pemilihan PJ, disinggung pula mengenai survey ke empat dusun di Desa Kertasari. Kami dibagi menjadi empat kelompok, pukul 14.00 setelah beres shalat jumat dan beres-beres, kami bersiap berangkat dengan kelompok masing-masing. Saya satu kelompok dengan Nemo, Ira, Ruddy, Sahat, dan Henly melakukan survey di dusun Leuwipicung. Rumah yang kami tempati pada saat itu berada dalam lingkup dusun Leuwipicung, jadi kami tidak ikut naik pick up bersama tiga kelompok lainnya. Awalnya kami pikir ruang lingkup Dusun Leuwipicung hanya daerah tempat tinggal kami hingga ke rumah pak Kuwu, namun ternyata itu hanya 20% bagian dari keseluruhan dusun. Ada lebih dari enam RT di dusun itu, perjalanan ke tiap rumah ketua RT sangat menguras tenaga, ditambah jalanan yang kami lalui cukup terjal. Kami mewawancarai warga berdasarkan bidang yang sudah ditentukan untuk menentukan kegiatan apa saja yang akan kami lakukan nantinya. Karena kelelahan, mood saya benar-benar buruk pada saat itu. Sampai pulang dan rapat evaluasi pun, saya lebih memilih diam dan menjawab seadanya apabila ditanya. Kami beristirahat untuk mengumpulkan kembali tenaga yang sudah banyak terkuras di hari itu.

Hari ketiga (03/07) tidak ada jadwal kunjungan atau kegiatan apapun. Kami memilih untuk mengakrabkan diri dengan rumah yang kami tempati. Seharian kami tidak kemana-mana. Cucu memecahkan kesunyian di dalam rumah dengan permainan ramalan kartunya. Semua anak mencoba ketepatan ramalan Cucu. Disambung oleh ramalan kartu versi Anggra. Tiap anggota ikut berpartisipasi diramal oleh Anggra. Ini hanya permainan, untuk bersenang-senang. Jadi saya tidak begitu mempermasalahkan ketepatan ramalan dari Cucu maupun Anggra. Selain itu, Mei sebagai sekretaris membuat jadwal piket di rumah. Jadi semua anggota bisa kerja semua, tidak dibebankan pada orang-orang tertentu saja. Saya kebagian piket hari Rabu dan Sabtu bersama Ryan, Asep, Thorry, Cucu dan C’bows.

Menjelang petang, Asep sudah bersiap pergi ke Mushola untuk mengajar anak-anak mengaji. Asep adalah anggota yang memiliki inisiatif tinggi. Sejak pertama kita tiba di Kertasari, dia sudah rajin mengunjungi mesjid dan madrasah yang ada disana dan membantu ustad mengajar anak-anak mengaji. Awalnya saya senang dengan inisiatif yang dia miliki, karena kegiatan mengajar di mesjid dan Mushola masuk ke dalam program pendidikan pula. Ada pula sedikit rasa gereget saya terhadap Asep karena dia kurang berkoordinasi dengan saya dan anggota lainnya mengenai kegiatan apa saja yang akan dilakukan, kapan saja kegiatan berlangsung, dimana saja dia melangsungkan kegiatan, dan sebagainya. Asep dengan mudahnya menjawab ‘ya’ ajakan dari ustad-ustad di tiap mesjid untuk mengajarkan mengaji tanpa melihat kapasitas dan kemauan para anggota lainnya. Pada akhirnya saya memutuskan untuk memusatkan kegiatan mengajar mengaji di satu mushola dekat rumah saja. Yang lainnya, biarkan Asep saja yang mengatur sendiri dengan para ustad.

Hari keempat (04/07) rumah kami kedatangan tamu tepatnya pukul 08.10. Tamu-tamu kecil datang bergerombol diiringi tawa riang yang membuat kami semakin gemas melihat mereka semua. Anak-anak sekitar dusun Leuwipicung datang ke rumah untuk belajar sambil bermain. Cukup lama kami berinteraksi dengan anak-anak. Belajar, bernyanyi, berjoged, becanda, games, dan masih banyak lagi kesenangan lainnya di hari itu. Siangnya, atas usulan pak Kuwu, kami pergi ke Pantai Cipatujah. Kami pergi naik Pick up atau kolbak andalan yang dikendarai oleh pak Acon. Menurut pandangan saya –yang juga termasuk anak pantai- pantai Cipatujah kurang begitu menarik, kurang bersih, dan sayangnya lagi berpasir tidak putih. Disana, saya kurang tertarik bermain air atau ikut berfoto. Saya memanfaatkan sinyal yang ada dengan menelpon orangtua dan teman. Di pinggir pantai, kami membeli ikan laut untuk disantap nanti malam. Mumpung pergi keluar desa, kami menyempatkan belanja hadiah untuk acara Rajaban yang diusung oleh Anggra sebagai PJ Seni dan Budaya, juga belanja konsumsi untuk dua hari kedepan. Sebelum pulang, Ira sangat ingin makan bakso, diamini oleh yang lainnya. Saya dan Henly yang duduk di depan bersama pak Acon pun mencari Bakso yang enak di sepanjang perjalanan. Setelah puas jalan-jalan, kami pulang dan mempersiapkan hidangan makan malam spesial, ikan bakar.

Di pagi hari berikutnya (05/05) piket sudah mulai berjalan. Beres makan, kami sudah bersiap untuk melaksanakan lokakarya bersama perangkat desa dan para warga. Cukup banyak warga yang datang ke balai desa pada saat itu. Dalam lokakarya dan sosialisasi tersebut, kami menjelaskan berbagai macam program dan kegiatan yang akan kami lakukan di Desa Kertasari kepada warga, dan meminta ijin, persetujuan serta bantuan para warga untuk keberlangsungan program kami. Di divisi pendidikan sendiri, Tim merencanakan lima kegiatan, diantaranya pendidikan formal (mengajar di SD Leuwipicung), Pendidikan keagamaan (mengajar di madrasah), Pendidikan nonformal (les dan pendidikan Anak Usia Dini), dan pendidikan umum (pembelajaran berbahasa Indonesia bagi para warga). Pak Sekdes menghampiri saya dan mengusulkan agar kami tidak hanya mengajar SD saja. Di Leuwipicung juga ada sebuah SMP yang baru didirikan dan membutuhkan tenaga pengajar. Saya pun menampung usulan pak Sekdes untuk dibicarakan kembali bersama tim pendidikan.
Selesai Lokakarya, kami kembali ke rumah untuk beristirahat, sebagian anggota mematangkan kembali konsep program yang akan dibuat.

Tim pendidikan mulai melaksanakan kegiatan. Sore harinya, diadakan pendidikan terbuka bagi anak-anak SD kelas 4-6 dan ada pula pendidikan umum untuk warga 15 tahun keatas yang ingin belajar bahasa Indonesia lebih dalam di balai desa. Pendidikan terbuka perdana sukses dijalankan, berbanding terbalik dengan pendidikan umum. Tidak ada seorangpun warga yang datang ke balai desa. Tidak mengapa, masih ada besok, hari terakhir untuk pendidikan umum.

Beberapa paragraf di dalam tulisan ini membahas tentang program pendidikan di desa Kertasari, bukan karena saya adalah PJ pendidikan, namun belum muncul saja bidang yang lainnya. Nanti pasti akan saya bahas sedikit-sedikit yang saya tahu tentang bidang Pertanian, Kesehatan serta Seni dan Budaya. Kembali ke Pendidikan, keesokan hari di pagi yang cerah (06/06), mengikuti usulan pak Sekdes ketika lokakarya pada hari Senin, beberapa tim pendidikan pergi untuk melakukan survey ke SMP Satu Atap 5 Cipatujah yang berada di dusun Leuwipicung. Berhubung kami datang ke Desa Kertasari bertepatan dengan liburan sekolah, maka pendidikan formal baru bisa dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2010 ketika para siswa sudah masuk sekolah lagi. Di SMP, kami banyak bertanya kepada satu-satunya staf yang ada di kantor. Lalu kami pun meminta ijin kepada kepala SMP untuk ikut mengajar di sekolah tersebut. Niat kami disambut baik, dengan tangan terbuka, pihak SMP mengabulkan permintaan kami.

Sisa hari itu kami lewatkan dengan melakukan survey ke dusun Sirnagalih. Dusun ini adalah dusun terjauh dibandingkan kedua dusun lainnya selain Leuwipicung. Di Sirnagalih, kami disambut di rumah pak RW yang selanjutnya disebut pak Punduh. Alangkah senangnya anggota yang kebagian piket di hari itu, mereka tidak usah repot masak dan mencuci piring, kami disuguhi berbagai macam makanan ringan dan dilengkapi dengan suguhan makan siang yang sangat spesial. Sebelum makan, sebagian dari kami pergi ke Masjid untuk melakukan sembahyang dzuhur. Pemandangan disekitar masjid sungguh menenangkan hati dan pikiran. Saya sungguh betah lama-lama duduk di masjid sambil melihat sekitar. Pak Punduh sangat senang menerima kedatangan kami, para mahasiswa berpokiran polos, namun dikarenakan pukul 16.00 ada kegiatan pendidikan terbuka, kami berpamitan kepada pak Punduh dan keluarga.

Setibanya di rumah, tim PJ pendidikan umum bersiap menuju balai desa, dan tim PJ Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pun bersiap menyambut anak-anak yang datang ke rumah untuk belajar sambil bermain. Kembali disayangkan, antusiasme para pemuda dan orangtua di dusun Leuwipicung untuk mencari ilmu, kalah mutlah oleh antusiasme bocah-bocah kecil nan menggemaskan. PAUD berjalan lancar, sedangkan tim pendidikan umum pulang dengan raut kekecewaan.

To be continued (Insya Allah)

Saya juga pernah (dan sering) Galau

Kata takdir mungkin terlalu umum untuk melukiskan apa yang sedang berlangsung selama beberapa hari belakangan ini. Saya pun tidak bisa menggunakan kata karma dikarenakan tidak adanya peristiwa yang pernah saya timpakan di waktu lampau. Sayangnya, saya tidak mempunyai kata-kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan suasana yang bersifat rutin dan berkelanjutan.
Kebosanan selalu hadir bersamaan dengan penyesalan, namun apa yang harus disesalkan sangatlah bersifat abstrak. Saya tidak tahu apa itu.
Selalu berpikir positif, selalu berusaha untuk sabar dan ikhlas, dan selalu menunggu.
Mungkin benar bahwa tidak ada gunanya untuk terus menyampaikan cerita duka yang sama secara berulang, yang ada hanya penyesalan dan rasa sakit yang tak berujung.
Berada di daerah asing tidak melulu dapat membuat segalanya berubah. Masih ada beberapa unsur yang akan selalu terbawa kemanapun kita beranjak. Pembawaan individu menentukan segalanya, apakah individu tersebut ingin memiliki hidup yang konstan, ataukah dia menginginkan perubahan-perubahan signifikan.
Berbagai hal berusaha saya amati secermat mungkin. Seperti halnya seorang psikolog yang bertanya secara terperinci kepada pasiennya untuk menemukan dan mengatasi suatu permasalahan yang dialami oleh pasien tersebut.

NOTE : saya tidak tahu kenapa dan kapan saya menulis tulisan ini. Mungkin tulisan diatas adalah wujud konkrit kegalauan yang pernah saya rasakan, entah kapan.