Minggu, 08 Agustus 2010

Ketika Aisyah Melirik Abraham (Karya ketiga Widinupus)

Aku bertemu dia secara tak terencana,
kuperhatikan dia masih dengan tatapan biasa,
wajah alim dengan dandanan seadanya,
dia hanya diam dan tak banyak berkata,
Itulah mengapa tatapanku masih biasa terhadapnya;
Tiada yang dapat menyangka kami diharuskan
bersama dalam sebuah rumah,
rentang waktu yang cukup lama membuat dia sedikit berubah,
semakin hari dia membuatku semakin terpesona,
ujaran spontan dan tingkah laku lucu tanpa rekayasa,
mengalihkan pandanganku yang sekarang hanya terpusat padanya,
aku mengumpat,
payah! Mungkinkah aku sudah jatuh hati pada seorang hamba yang memiliki cara menyembah tuhan dengan berbeda?
Kembali kuyakinkan rasa ini,
aku tak mampu berpikir lirih,
tidak ada perasaan yang berbisik aku salah pilih,
tiada pula hasratku tuk ingin meraih,
dia yang berjiwa gigih;
Seorang Abraham yang taat,
Hamba dengan pendirian kuat,
sangat berbeda dengan Aisyah yang lemah,
tak mampu tuk menang,
hanya bisa terus mengalah. Camkan, bukan kalah!
Ingin aku mencoba mendekat,
tidak tersirat maupun tersurat sedikitpun tentang dosa,
hati sudah terlanjur terpikat,
terlintas keinginan jiwa untuk bisa memiliki dia.
Seribu kemalangan menerpa Aisyah,
Abraham tak peka terhadap hawa itu,
tidak ada perubahan semenjak pisah,
sang Abraham terpikat oleh perempuan kemayu,
namun bukan Aisyah.
Aisyah mulai membuka mata,
menyadari semua hanya fatamorgana yang menghantarkan dosa,
Hawa itu kini hanya bisa menunggu kembali,
bukan Abraham yang diharapkan,
melaikan Ibrahim, kekasih sejati.

Jumat, 25 Juni 2010

Jumat Berkat, Berkat Jumat

Pagi yang sangat berat untuk membuka mata. Pukul 06.27, saya terlambat 27 menit dari jadwal yang sudah ditetapkan dan tentu saja dari jadwal kewajiban saya terhadap agama yang saya yakini. Hari Jumat bercuaca mendung seperti sekarang, saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman saya di Pameungpeuk, salah satu desa di kabupaten Garut. Pameungpeuk merupakan daerah yang jarang orang lain mengetahui keberadaannya. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai disana apabila kita mengambil awal dari daerah Garut kota adalah sekitar tiga jam. Itu pun jika kita menggunakan kendaraan pribadi; Apabila kita memakai kendaraan umum seperti mini bus, maka waktu yang dibutuhkan akan sedikit lebih lama.
Sekarang saya berdomisili di daerah Jatinangor. Dari tempat saya bermukim sekarang menuju daerah Garut kota, itu membutuhkan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit. Saya lebih senang menggunakan kendaraan umum apabila saya pulang ke Pameungpeuk, maka apabila diakumulasikan, waktu keseluruhan yang saya habiskan diperjalanan adalah sekitar lima jam.

Setelah sedikit dipaksakan, saya pun beranjak dari tempat empuk yang biasa menjadi tempat bermanja setiap malam. Saya memperhatikan kondisi kaki kiri yang sebagian permukaannya tetutup koyo. Teringat hari kamis ketika saya berkumpul dengan teman-teman KKN daerah Cipatujah desa Kertasari, kondisi saya kurang baik pada saat itu. Kepala yang dari paginya terasa berat dan pusing membuat keseimbangan tubuh saya berkurang yang akhirnya saya terjatuh dihadapan teman-teman KKN serta mengakibatkan kaki kanan sedikit lecet dan kaki kiri terkilir dan benjol. Hasilnya, sekarang saya terpincang-pincang menahan sakit.

Hari ini pun saya memutuskan untuk menggunakan kendaraan umum untuk pulang. Selain melatih kesabaran dan kemandirian, setiap menit perjalanan yang saya lakukan menuju rumah selalu saya nantikan. Tidak sedikit pengalaman baru yang saya dapatkan dari perjalanan tersebut. Saya pun secara tidak langsung dapat mempelajari watak setiap orang baru yang saya temui di perjalanan. Pelajaran baru yang saya dapatkan di kelas tidak dapat seluruhnya saya tangkap, namun, apabila saya mempelajari hal tersebut melalui aplikasi di dunia nyata, saya akan dengan cepat memahaminya. Seperti halnya pelajaran-pelajaran baru yang selalu saya dapatkan di perjalanan pulang menggunakan kendaraan umum.

Setelah merapikan semua barang-barang yang harus dibawa dan yang semestinya dirapikan, saya berjalan sedikit pincang menuju tempat pemberhentian angkot pertama. Tampak seorang mahasiswa berpakaian islami yang berjalan tergesa-gesa menuju kampus. Dari pakaian yang agak berantakan dan kertas-kertas ditangannya, mungkin dia terlambat mengikuti kuis ataupun ujian yang diselenggarakan di kampusnya. Rasa syukur saya panjatkan karena hari ini saya sudah terbebas dari kuis ataupun ujian, akan tetapi penyesalan berikutnya datang karena pagi tadi saya melewatkan sembahyang subuh.
Angkot pertama mengantarkan saya ke angkot kedua, dan dari angkot kedua, saya melanjutkan perjalanan menggunakan bus. Perjalanan satu jam setengah di dalam bus biasanya saya gunakan untuk tidur. Tidak ada interaksi yang menonjol antara penumpang satu dengan penumpang lainnya, karena itu saya merasa bosan memerhatikan keadaan sekitar. Sedikit berbeda dari pengalaman-pengalaman yang lampau, saya mendapatkan pembelajaran dari sang kondektur yang menarik ongkos dari tiap penumpang. Biasanya, saya membayar tarif bus tersebut seharga 5000-7000 setiap saya pergi ke Garut kota; ketika saya memberikan tarif biasa kepada kondektur yang masih muda dan berbadan kecil, dia memberikan kembalian 2000 kepada saya. Baru saya ketahui kalau perjalanan ke Garut kota bisa dengan 3000 rupiah saja (mungkin kita sebagai penumpang juga harus melihat perawakan dari kondektur. Kalau kondekturnya sudah berpengalaman, mungkin mereka akan meminta tarif lebih).

Di terminal Garut tempat pemberhentian akhir bus, saya turun. Dari sana saya menggunakan angkot ketiga menuju daerah Antares. Saya biasa menunggu bus mini di daerah tersebut. Ketika saya turun dari angkot ketiga, tidak lama kemudian bus mini menuju pameungpeuk (tepatnya jurusan Cimari dan/ Cikelet) tiba menjemput. Tanpa banyak bicara, saya naik dan duduk di bangku belakang supir. Di barisan bangku itu, hanya ada saya yang duduk. Perjalanan yang sebenarnya dimulai.

Jumlah penumpang di dalam bus mini yang saya gunakan terbilang sedikit namun memenuhi kuota untuk mulai berangkat, jadi supir tidak usah repot untuk memutari daerah Merdeka beberapa kali untuk mencari penumpang. Biasanya penumpang akan datang sendiri di sepanjang jalan. Yang menjadi objek pandang saya adalah seorang ibu yang duduk disamping supir. Raut wajahnya menunjukkan bahwa beliau sudah berumur lebih dari setengah abad. Dia sangat ramah dan cepat akrab dengan penumpang lain yang baru naik. Segala hal selalu beliau tanyakan, dan beliau sedikit banyak berbaur apabila dua orang atau lebih sedang melakukan percakapan. Bus mini berhenti di daerah Maktal, seorang ibu dengan tiga orang anak yang masih terbilang balita menaiki bus mini. Mereka duduk sebaris dengan saya. Ibu tersebut tampak kerepotan, anak yang paling kecil (perempuan) digendong di sisi kirinya, anak kedua (perempuan) bergelayut manja di sisi sebelah kanan, sedangkan anak pertamanya (laki-laki) tidak mau kalah dengan adik-adiknya, dia mencari perhatian dengan cara lebih memilih berdiri di depan ibunya daripada duduk disamping beliau. Saya membayangkan jika saya berada di posisi ibu tersebut, saya akan bekerja keras bersama suami saya kelak agar kami dapat memiliki mobil pribadi agar saya dan suami dapat duduk di depan dengan nyamannya, dan anak-anak duduk di bangku belakang. Betapa repotnya seorang ibu mengurus tiga anak kecil di kendaraan umum dengan kapasitas terbatas.

Tidak jauh dari Maktal, tepatnya di daerah Bayongbong, seorang lelaki naik dan duduk di bangku depan bersama ibu berumur di samping supir. Penampilannya terbilang gaul untuk pemuda di desa. Kedua antingnya ditindik, pergelangan kedua tangannya dihiasi oleh gelang-gelang karet berwarna hitam, sepuluh kuku jari tangannya berwarna hitam mengkilap. Padahal dia cukup menarik dan memiliki senyum yang manis walau tidak menggunakan aksesoris apapun. Saya berani menjamin.

Bus mini kami berhenti beberapa waktu di daerah pasar Cikajang untuk memenuhi kuota penumpang. Dari tempat pemberhentian tersebut, ada beberapa orang baru, diantaranya rombongan murid SMKN Cikajang, seorang perempuan yang masih tampak muda, seorang ibu berusia matang menggendong bayi yang masih sangat rentan, serta dua orang kakak (perempuan) adik (lelaki). Memang pada dasarnya saya adalah manusia modern dengan jarak pandang yang sangat terbatas, saya hanya memerhatikan orang-orang yang berada di dekat saya.
Rombongan murid kebanyakan duduk di bangku paling belakang, hanya dua orang duduk di samping saya. Perempuan muda duduk di depan rombongan murid, dan ibu berusia matang dan menggendong bayi rentan duduk di depan perempuan muda/dibelakang bangku saya, sedangkan kakak beradik duduk terpisah; Kakak duduk sejajar dengan perempuan muda, dan adiknya duduk di pinggir dua orang murid disamping saya.

Sebelum berangkat, bayi yang masih sangat rentan itu tiba-tiba menangis kencang. Bagi saya, tangisan dan jeritannya sangat memilukan, membuat saya khawatir akan pita suaranya yang juga rentan. Bayi itu kepanasan, dengan lapisan kain tebal yang menyelimutinya, dengan kondisi tubuh ibunya yang sedikit tambun, dan keadaan bus mini yang pengap. Hingga ibu berusia matang itu memutuskan untuk pindah kedepan bersama pemuda, ibu berusia setengah abad, dan supir. Seperti biasa, ibu berusia setengah abad bertanya akrab kepada ibu yang menggendong anak. Dari percakapan mereka, diketahui bahwa bayi yang dia gendong adalah cucunya, sedangkan anak dari bayi tersebut adalah perempuan muda yang semula duduk dibelakang anaknya. Terbesit pikiran apakah sang ibu kandung merasakan kepiluan yang saya rasakan ketika mendengar bayi itu menangis? Pikiran susulan yang terbesit kenapa bayi itu digendong neneknya sampai neneknya mengeluarkan payudaranya untuk mendiamkan bayi sedangkan ibu kandung hanya diam dibelakang serta tidak berbuat apa-apa?

Kemudian saya tertarik memperhatikan salah satu murid SMKN yang duduk disamping saya. Dia curhat kepada temannya dengan suara yang dapat didengar oleh seluruh penghuni bus mini, ponsel qwerty merk Nex*** di pegang di tangan kiri sambil seringkali layar ponsel tersebut digunakan untuk bercermin. Terdapat empat buah cincin emas di jari-jari tangannya, sebuah jam tangan mencolok berwarna merah muda dan sepuluh kukunya dibubuhi cat kuku dengan warna yang sama. Sepertinya, dia sedang mencari perhatian pemuda yang duduk di bangku depan. Kesimpulan tersebut saya dapat dari pengalaman ketika saya seumur dengan murid itu.

Lain halnya dengan cerita kakak beradik yang duduk terpisah. Baru saya sadari kalau adik laki-laki yang duduk disamping murid SMKN tersebut memiliki keterbelakangan mental. Dia tidak dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, melakukan apapun seenak dia tanpa memperhatikan orang lain, dan pandangan matanya kosong. Sepertinya dia tidak nyaman dengan keadaan sumpek didalam bus mini, seperti halnya ketidaknyamanan murid SMKN akibat keberadaannya. Banyak keluhan yang dilontarkan murid SMKN yang cari perhatian itu kepada saya, dan saya hanya berusaha berkata bahwa dia tidak akan menggigitmu. Adik lelaki itu semakin gelisah, dia semakin tidak nyaman walau sudah berkali-kali berganti posisi. Dia duduk dibawah beberapa saat, batuk-batuk, sekali-kali kepalanya bersandar pada paha murid SMKN, dan dia pun muntah. Ibu tiga anak seketika berteriak dan mengeluh karena muntahan adik lelaki itu mengenai kakinya. Kakaknya dibelakang mulai khawatir, dia memberikan kantong plastik dan air sambil terus menanyakan keadaan adiknya. Salah satu murid SMKN akhirnya turun, dan satunya lagi yang cari perhatian pindah ke bangku belakang. Tersisa saya, ibu tiga anak dan adik lelaki itu. Dengan baik hati ibu setengah abad di depan membawa anak kedua untuk duduk dipangkuannya, sehingga sang ibu tidak terlalu repot. Beberapa saat, adik lelaki terlihat tenang tertidur disamping saya, sedikit mengigau. Kakaknya selalu mengajaknya berkomunikasi, dan dengan intonasi yang kurang jelas, adik lelaki berkata bahwa dia ingin makan. Sungguh kakak yang sabar dan perhatian, dia terus mengajak adiknya berkomunikasi meski pandangan semua orang tampak sinis, terutama ibu tiga anak. Keadaan mulai berubah. Tindak-tanduk adik lelaki tampak gelisah kembali, sekarang dengan batuk yang lebih keras dan membuat orang-orang mual, dia pun kembali duduk di bawah, sekarang bersandar pada paha saya. Tidak lama, beberapa kali dia muntah. Walaupun dia memegang kantong plastik, dia tetap muntah tanpa menggunakannya sebagai wadah. Alhasil, bajunya dipenuhi muntah. Beruntung kami tiba di pemberhentian untuk makan siang. Setelah adik lelaki turun dengan muntah berceceran dimana-mana, saya akhirnya melihat kakaknya dengan jelas. Dia telaten membersihkan muntahan adiknya, sabar, perhatian, dan tampak sangat sangang kepada adiknya. Badan kakaknya sedikit tambun, cantik, kemayu, dan tampak keibuan. Kondektur membereskan muntahan di dalam bus mini. Dan saya memutuskan tidak keluar untuk makan dan tidak berpindah dari tempat duduk saya semula. Ibu tiga anak pindah ke belakang seiring dengan turunnya ibu, anak dan cucu yang rumahnya tidak jauh dari tempat pemberhentian bus mini.
Setelah 20 menit, kami bersiap berangkat. Kendala berikutnya pun kembali datang. Kopling bus mini tiba-tiba mengeras dan tidak bisa di otak-atik. Kami pun menunggu. Rombongan SMKN di bagian belakang memutuskan untuk turun dan menaiki bus mini lain daripada harus menunggu.
Ibu berusia setengah abad memecahkan kesunyian diantara penumpang ynag tersisa. Beliau menanyakan keperluan ibu ynag pergi ke Garut kota bersama ketiga anaknya. Ibu tiga anak itu berkata bahwa tadinya dia tidak ingin mengajak ketiga anaknya ikut serta. Dia hanya ingin pergi bersama anak bungsunya. Namun suaminya terbebani apabila kedua anaknya ditinggal dan takut terganggu apabila sang suami sibuk membenarkan mobilnya. Dari pernyataan yang diucapkan suami ibu tiga anak, saya kembali membayangkan dan berdoa supaya suami saya kelak tidak akan memprioritaskan mobil kami, dan lebih memilih bermain bersama anak-anak.
Saya hanya mendengarkan celotehan anak-anak dan cerita dari ibunya sambil melihat kakak dan adik ynag memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan naik ojeg, padahal sisa jarak ynag harus ditempuh masih sangat jauh. Otomatis harga biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal. Betapa tegarnya kakak itu. Tidak ada raut kesal diwajahnya melihat apa yang telah dilakukan sang adik.

Sungguh perjalanan yang luar biasa. Hari jumat yang penuh berkat, berkat jumat, saya bisa melihat ketegaran kakak menghadapi adiknya yang kekurangan sehingga saya berpikir dua kali untuk berselisih dengan adik-adik saya di rumah; bisa mendapatkan pelajaran mengenai komunikasi massa dari ibu berusia setengah abad; bisa berpikir cara untuk memilih calon suami yang bertanggungjawab dan sayang keluarga, apa adanya tanpa berpenampilan berlebihan; bisa mengendalikan diri untuk tidak berbuat dan berpenampilan diluar kewajaran; bisa berusaha untuk menjaga buah hati tanpa merepotkan orang lain disekitar saya; [mudah-mudahan] bisa lebih sabar, mandiri, percaya diri, dan memiliki kebisaan lainnya.

Sabtu, 05 Juni 2010

Dogystyle, Sodomi, dan/ Menusuk dari Belakang

Sudah lama sekali saya tidak menuangkan pikiran di blog ini. Padahal sangat sulit untuk memulai kembali suatu rutinitas yang sudah lama ditinggalkan. Dan untuk awal tulisan ini, saya ingin berbagi mengenai ‘pengalaman’ saya tentang judul diatas.

Kenapa saya berikan tanda kutip untuk kata pengalaman? Tentu saja jawabannya adalah saya ingin memberikan kesan ambigu terhadap kata tersebut. Kalau saja saya menulis kata tersebut tanpa tanda petik, otomatis pembaca tulisan ini akan berpikir kalau saya berpengalaman akan gaya bercinta dogysytle ataupun pengalaman disodomi maupun ditusuk dari belakang. Maaf membuat kalian kecewa, namun itu bukan maksud dari judul yang saya berikan kepada tulisan ini.

Jujur sejujur-jujurnya, saya sangat tidak suka dengan semua perbuatan menyimpang tersebut.

Saya mendapatkan inspirasi menulis mengenai DSM (Dogystyle, Sodomi, Menusuk dari belakang) setelah saya menonton film Serigala Terakhir sendirian pada waktu tengah malam. Dan sekarang sudah pukul 2 dini hari. Dalam film itu, saya melihat tokoh Djarot yang dipecudangi oleh seorang penguasa para napi. Dari sana, otak saya langsung membuka files mengenai hal serupa ketika saya masih bau kencur.

Awal mula saya mengenal istilah sodomi adalah ketika waktu SD dulu, saya menonton film Jacklyn. Pada waktu itu, tidak ada tulisan ‘bimbingan orangtua’ di layat TV. Oleh karena itu saya nonton sendirian, dan sialnya, scene yang saya tonton seharusnya tidak saya tonton pada waktu saya masih belum bisa berpikir layaknya orang dewasa yang sudah menganggap hal tersebut biasa. Anak kecil ceria teman Jacklyn yang diculik oleh pak tua gendut bermuka sangar pada waktu itu dikurung disebuah gudang. Pada awalnya saya melihat sedikit kebaikan dari pak tua gendut bermuka sangar karena biadab itu memberikan makan kepada anak kecil ceria teman Jacklyn. Ketika suasana diceritakan sudah malam hari, pak tua gendut bermuka sangar menyunggingkan seringai yang aslinya sangat menyeramkan. Biadab itu hanya berdua dengan sang anak kecil ceria teman Jacklyn, dan pintu pun ditutup.

Ketika Jacklyn sebagai sosok pahlawan kesiangan tiba, sikap anak kecil ceria tersebut menjadi berubah. Dia lemah, ketakutan dan tampak shock. Setelah beberapa menit, dia pun meninggal dipangkuan Jacklyn. Saya pun menangis dan mungkin sedikit trauma juga. Awalnya saya bertanya-tanya, apa yang mereka (pak tua gendut bermuka sangar dengan anak eks-ceria eks-temannya Jacklyn) lakukan di dalam ruangan tersebut. Seiring berlalunya waktu, saya pun mendapatkan jawaban dari kakak sepupu saya. Dan mulailah trauma tersebut menjalar. Saya tidak ingin mendengar, melihat ataupun merasakan adegan itu. Hehe. Maka, percaya atau tidak, saya belum pernah menonton film atau video porno sampai saat ini. Saya masih berani membaca artikel atau cerita seputar seks, tapi BIG NO bagi saya untuk menontonnya.

Pernah suatu waktu ketika saya berdomisili di kostan daerah Nusa Indah-Garut, semua teman-teman kostan sedang berkumpul di teras kamar. Ternyata mereka sedang menonton video porno di telepon seluler milik the C*Ci. Lebih sial lagi, ketika saya melihat sekilas, yang saya lihat adalah adegan sodomi. saya melihat si aktor berkali-kali memasukkan senjatanya di anus aktris. Aktris merasa kesakitan dan mungkin ada enaknya juga (sumpah, saya sekaang merasa sangat mual).

Inhale exhale. Oke, kita lanjutkan. Selain itu, akhir-akhir ini saya sering melihat berita kriminal atau semacam investigasi seperti halnya kasus seorang bandot tua yang menyodomi belasan anak jalanan. Otomatis cerita tersebut langsung membuat saya suudzon terhadap anak-anak dan bapak-bapak yang saya temui di jalan. Semakin saya ingin menghilangkan rasa trauma ini, semakin banyak files mengenai hal tersebut yang saya terima. Dunia di luar sana amatlah kejam, saya mungkin tidak sanggup melihat kekejaman itu langsung. Makanya Allah menempatkan saya di daerah yang cukup damai. Saya senang menjadi anak rumahan, saya masih belum berani menerima kenyataan tentang kekejaman dunia.

Walaupun ini sedikit mustahil, tapi saya berdoa dan selalu memohon agar orang-orang di dunia ini kehilangan seluruh jiwa tamak, jahat dan dendam. Seperti kata pak Haji di Kiamat Sudah Dekat dan bapak saya sendiri pun bilang begini, “kunci kedamaian hanyalah Ikhlas.” Semakin orang tidak ikhlas, semakin dia tidak menerima kenyataan. Semakin dia tidak bisa menerima kenyataan, semakin dia merasa tidak puas. Semakin dia tidak puas, semakin dia ingin mencari. Semakin banyak informasi yang di dapat, akan semakin banyak pula penyimpangan yang dia lakukan.

Selasa, 18 Agustus 2009

Poor me

I hate July and August. It is caused I had some bad memories on that months for two years. Actually, I can’t decide to judge July and August as my bad months, but It is truly soooooooo poor of me. I lost my cellphone on 26th July 2008 when I did some simulations for student orientation in my campus. Then, my father gave a new cellphone (that’s actually my brother’s cellphone) to me. Unfortunately, I just used it for a month because that cellphone has just broken. I did it, I made my second cellphone brake. And my father changed my cellphone left. He gave me N81. I enjoy with it. N81 is my exclusive and my first wifi cellphone.

Again and again, on 20th July 2009, I lost my lovely N81 cellphone. It happened when I went to Garut to visit my senior high school reunioun. I cried loudly and I was very shock to know that N81 wasn’t beside me anymore. My parents maybe was soo disappointed to me because I had lost my cellphone for the second time. They didn’t angry and say something except they suggested that I should be more patient, and careful. My mother gave her cellphone (nokia 6300). How stupid I am because that cellphone was broken by me. I just used it for two weeks. If I didn’t think about my lovely family, my education and myself, I would suicide in that time. But, I try to repair it in Nokia centre. 4 days left, the operator sent me a text that they can’t repair it. I was soo down deeply.

Finally I told it to my mother. She is the best mother in the world. She is never angry but she also tells me to keep myself safe.

And now, I buy my new nokia (1202) with my own money. The price is RP.280.000,- I should take care of it more than my previous cellphones.

The conclution of the story about my cellphone is…

Saya kurang mensyukuri dan menghargai apa yang diberikan oleh Allah dan kedua orangtua saya. I shouldn’t hate something because of my mistake. That’s it.

Senin, 10 Agustus 2009

CAP FOS TUMPAK UWA (Catatan Perjalanan FOS to Pameungpeuk sesi dua)

Pameungpeuk, 10 Agustus 2009

Saya akan mencoba menceritakan pengalaman 25 jam bersama teman-teman FOS (Segerombolan teman-teman SMA dimana saya menghabiskan 2,7 tahun bersekolah dan sekelas dengan mereka di IPA 5) di Pameungpeuk pada tanggal 8-9 Agustus 2009 kemarin. Di mulai dari jarkom yang saya terima dari Dinar pada akhir bulan juli lalu. Saya sedikit kaget karena isi jarkom tersebut membahas rencana keberangkatan anak FOS ke Pameungpeuk pada tanggal yang sudah disebutkan, namun mereka belum melakukan konfirmasi kepada saya sebagai orang yang seharusnya akan menjamu mereka disana. Dan rencana tersebut menimbulkan dilema yang teramat sangat mengganggu kegiatan saya di daerah perantauan. Bagaimana tidak, bulan Agustus yang saya pikir adalah bulan yang paling bebas untuk bersantai (karena saya sudah terlepas dari kewajiban melaksanakan satu pementasan mandiri GSSTF) dan tidak ada lagi kesibukkan yang membuat saya menjadi seorang perempuan pelupa, teledor, sering melamun, dan mengidap stres tingkat rendah sehingga saya kehilangan ponsel yang saya banggakan (untuk kedua kalinya), ternyata justru merupakan bulan yang padat akan kegiatan kampus dan mungkin akan membuat tingkat stres yang melanda saya semakin tinggi. Registrasi maba, pra osjur, heregistrasi, SAT, student day GSSTF, pementasan monolog GSSTF, pendaftaran maba GSSTF, dan pendaftaran saya sebagai anggota baru LISES J.

Sulit sekali mencari celah yang dapat saya gunakan untuk bisa bernapas dengan leluasa. Semua bagaikan kontrak yang sudah saya setujui dan sekarang harus saya jalani. Rentetan kegiatan yang sangat MENJEMUKAN, tetapi lebih mengasyikkan daripada duduk manis berdiam diri di rumah selama dua bulan lamanya hanya untuk berleha-leha. Kembali ke topik awal, kemudian saya menolak dengan halus ajakan dari Dinar mengenai jarkom yang sudah dia berikan. Tidak ada respon balik dari dia. Esoknya, ada pesan singkat yang datang dari Budpi di ponsel saya. Dia ingin memastikan acara FOS yang sudah saya tolak pada hari sebelumnya. Saya pun mem-forward sms yang saya berikan kepada Dinar. Ternyata Budpi tidak menyerah. Segala rayuan dia keluarkan agar saya bisa membatalkan keputusan pembatalan keberangkatan FOS ke Pameungpeuk. Saya memang sangat luluh oleh rayuan; oleh karena itu, saya memikirkan ulang keputusan yang telah saya buat. Saya minta waktu sehari ke Budpi untuk memikirkannya. Seperempat hari berlalu, saya sudah mendapatkan jarkom kedua dari Dinar yang isinya adalah bahwa FOS telah positif akan pergi ke Pameungpeuk pada tanggal 8-9. OLOHOK, itu ekspresi saya selama beberapa detik ketika membaca pesan singkat itu. Olohok saya semakin menjadi ketika melihat invitation di Facebook tentang FOS goes to Pameungpeuk session 2. Then saya pun HOKCAY sewaktu di tag di sebuah foto yang juga merupakan forum FOS. Di foto tersebut, ada Dinar yang sedang bergaya di salah satu pantai di Pameungpeuk. HOKCAY saya bukan berarti saya menyukai objek foto tersebut, melainkan saya merasa sangat kaget akan apa yang telah mereka (panitia FOS) perbuat tanpa seijin saya. SAYA BELUM MEMBERIKAN KEPUTUSAN, PALS !

Sudahlah, nasi sudah mengerak. Saya pun menyetujui acara tersebut, dan ternyata keputusan saya di dukung oleh kampus. Registrasi maba di undur menjadi tanggal 12 Agustus. Saya bisa berlibur untuk beberapa saat di rumah sembari menunggu kedatangan mereka. hari Jumat malam, saya mengirimkan wall kepada Dinar untuk memastikan berapa orang yang akan ikut. FYI, selama liburan di Pameungpeuk, saya tidak mengaktifkan ponsel. Hal itu saya lakukan karena saya sering mendapatkan pesan singkat dan telepon dari teman-teman kampus dan teman-teman di penjuru Indonesia yang saya kenal. Telepon jarang terangkat, pesan singkat selalu telat di balas karena saya jarang memegang ponsel kalau sudah berada di rumah. Daripada berdosa dan merasa bersalah, lebih baik saya tidak mengaktifkan ponsel saya untuk sementara. Kembali ke topik lagi, Dinar membalas wall saya. Dia menulis, “jumlah peserta yang fix ikut ada 11 orang, kenapa hpnya nonaktif? Ok.” Saya dan keluarga bersiap menjamu tamu di hari esoknya.

FOS akan berangkat pada pukul 8 pagi dari Garut, perkiraannya mereka akan sampai pukul 11 siang nanti. Saya dan mamah menyiapkan segala sesuatu untuk tamu saya dari subuh. Setelah makanan dan cemilan sudah dipersiapkan, saya menunggu mereka sambil menonton TV. Merasa ada yang tidak beres, pukul setengah 12 saya menghubungi Dinar lewat telepon rumah. Dia bilang, ini lagi di jalan, tadi ada kendala. Saya pikir, mereka sedang berada di daerah Cikajang atau di Cisompet, maka saya melanjutkan acara nontonnya. Ternyata pemirsa, rombongan baru tiba di rumah saya pada pukul 3 sore dengan jumlah peserta hanya 8 orang (Dinar, Budpi, Tyar, Novi, Sly, Adul, Adhit, dan Gravito). Wew, spektakuler sekali. Mereka baru berangkat dari Garut pada pukul 12 siang. Setelah istirahat Shalat dan ngobrol, kami makan di dapur dengan hidangan yang sudah tidak panas lagi. Tapi tetap dengan rasa yang maknyus menurut saya mah.

Petualangan kami dimulai pada pukul 5 sore. Tujuan pertama adalah pantai Santolo. Disana, para lelaki perkasa tidak mau kalah dengan Budi; mereka bermain bola. Sesi foto-foto dan berkejaran di atas ombak dengan siluet senja yang menghangatkan badan (kehangatannya tidak berpengaruh pada Vito, dia diam di mobil karena kedinginan dan merasa pusing) membuat semuanya cukup bergembira. Tadinya kami akan berada di pantai sampai tengah malam. Saya sudah menyiapkan tikar untuk kami duduk di tepi pantai. Namun, rencana berubah. Atas saran Adhit, kami memutuskan untuk pergi ke gunung Gedher (Adhit lebih tahu seluk beluk Pameungpeuk daripada saya. :D ). Saya pikir kami akan mendaki gunung di malam hari. Tetapi saya salah besar. gunung Gedher adalah lokasi dimana terdapat sebuah pantai yang tidak tampak wujudnya (karena kami sampai ketika matahari sudah enggan menemani perjalanan kami dan bulan masih bersembunyi). Kami menggelar tikar di pesisir pantai, Adhit dan Adul mencari ranting-ranting dan membuat api unggun untuk menerangi kebersamaan kami di malam yang sunyi (halah!). Di tempat itu, kami bermain truth or dare, bercerita tentang ketidaksolidan FOS, curhat, buka-bukaan mengenai cinlok di kelas, berbagi cerita asmara, bernyanyi, dan banyak lagi. Rombongan kembali ke rumah pada pukul 9 malam. Dilanjutkan dengan acara makan, ngobrol dan ngebanyol. Suasana rumah mulai sepi pada pukul setengah 2 pagi.

Saya terlambat bangun pada hari minggu itu, pukul 05.50. Ketika menengok ke lantai bawah, teman-teman pria sedang duduk berkumpul. Saya melihat ke kamar samping, tyar dan novi sudah dalam keadaan siap. Dan saya masih mengumpulkan kesadaran. Pukul setengah 7, kami memutuskan untuk kembali ke santolo dan berenang disana. Seru sekali, semuanya basah (terkecuali saya karena saya yang menyimpan barang-barang berharga mereka di tas barbie warna biru cerah. Disamping itu saya mengancam mereka “yang berani menyeret saya ke ombak atau yang mengotori baju saya, tidak akan saya kasih makan!” mereka pun tidak berani. hahahaha). setelah puas bermain di pantai, pukul 10 kami pulang ke rumah dan membersihkan diri untuk acara selanjutnya.

Tempat tujuan berikutnya adalah Joglo. Itu merupakan tempat peristirahatan keluarga saya. Sebenarnya Joglo adalah nama jalan dimana saung kecil keluarga kami terletak. Mungkin saung ini sangat cocok untuk dikunjungi sebelum mereka pulang kembali ke Garut dan menempuh 3 jam perjalanan di pegunungan yang monoton pemandangannya. Mereka bisa santai sejenak di saung, tiduran di ruang terbuka, memancing, atau memasak dengan Hawu. Saya berpikir demikian ketika menyiapkan rundown acara untuk FOS ini. Setelah sampai di Joglo, kami berkumpul di dapur, menyiapkan hidangan yang sebelumnya telah disediakan oleh mamah. Sebelumnya, saya sempat memperkenalkan salah satu jenis seafood yang bernama Matalembu kepada mereka. saya mempraktekkan cara menghadapi Matalembu, bagaimana dia bisa dikonsumsi dan bagaimana menghilangkan bahaya dari racun yang ditimbulkannya. Saya pikir mereka tidak akan menyukai jenis makanan ini, maka itu saya hanya membeli sedikit Matalembu di Sayang Heulang setelah pulang dari Santolo. Tetapi mereka merespon positif jenis makanan baru yang masuk ke dalam mulut mereka hingga Matalembunya ludes tak bersisa. selanjutnya, kami mulai membakar ikan tongkol di atas hawu. Ada beberapa kendala yang membuat kami (para lelaki khususnya) harus lebih berusaha keras. Namun, segala kesulitan mampu kami hadapi dan selesaikan dengan tuntas dengan hasil yang cukup memuaskan pada waktu-waktu berikutnya.

Akhirnya kami menyantap makanan setelah perjuangan yang tidak mudah di siang itu. Makan bersama teman-teman di saung terbuka dinaungi hawa sejuk pesawahan merupakan suasana yang pasti sangat menyenangkan dan akan kita rindukan di masa depan. Kami makan lahaaaaaaaaaaap sekali. Sebuah acara kejutan dadakan untuk Dinar terjadi di Joglo. Seperti yang kita ketahui, Dinar berulang tahun pada tanggal 5 Agustus 2009 kemarin. Oleh karena itu, sebagai soulmate, Budpi merencanakan kejutan kecil untuk Dinar. Tak ada perlawanan yang berarti dari korban pada saat itu. Dengan sedikit pasrah, Dinar diarak ke balong dangkal dan dia diceburkan. Setelahnya, terjadi insiden balas dendam dimana ada moment kejar-kejaran antara korban dan para tersangka. Ada tersangka yang sulit ditangkap, ada pula tersangka yang terperangkap. Tidak puas melihat kondisi Dinar yang masih sehat, kami merencanakan kejutan kedua ketika Dinar sedang membersihkan diri di kamar mandi. Namun kejutan itu digagalkan oleh adik bungsu saya. Adik saya berbisik kepada Dinar “a, kade engke bade dijeburkeun deui ku rerencanganna di balong itu.” Ketika saya interogasi adik atas kelakuannya, dia hanya bilang “da karunya atuh!” dan kejutan kedua pun gagal.

Setelah acara makan dan santai dirasa cukup, kami kembali ke rumah karena mereka harus membereskan barang-barang sebelum pulang ke Garut. Rencananya mereka akan pulang ba’da ashar. Sekitar pukul 4 sore itu, mereka berpamitan pulang kepada orangtua saya. Dan tugas saya selesai sudah. Namun, selang beberapa menit setelah saya membereskan kamar, saya menemukan dompet budpi di dalam tas barbie. Segera saya mencari nomor kontak yang bisa saya hubungi. Budpi, Tyar, Dinar, semua nomor tidak ada yang nyambung. Lalu saya mencoba menghubungi Adhit. Adhit bilang bahwa mereka sedang putar balik untuk mengambil dompet Budpi tersebut. Budpi datang, mengambil dompet, dan pulang.

Saatnya evaluasi dari diri saya pribadi terhadap acara ini. Pertama, saya memiliki beberapa kekecewaan terhadap acara yang telah berlangsung kemarin; diantaranya tidak adanya konfirmasi kepada tuan rumah sebelum menyebarkan jarkom. Saya sedikit kelabakan dan bingung ketika menerima undangan. Bukan apa-apa, sebagai tuan rumah, saya harus punya persiapan yang matang untuk menyambut tamu disana. Sedangkan saya sedang berada ditengah beberapa kegiatan yang sulit ditinggalkan di tempat perantauan. Kekecewaan kedua adalah jumlah peserta yang datang ke rumah saya sangat minim sekali. Dari 12 orang yang katanya akan fix ikut, merosot menjadi 8 orang. Saya tidak ingin membicarakan loyalitas dan kekompakan teman-teman FOS karena saya sudah merasakan kurangnya sikap tersebut ketika saya masih bersekolah di SMA dan sekelas dengan kalian. Saya juga pasti lebih memilih tidak ikut serta dan menyelesaikan segala kepentingan saya di daerah perantauan kalau saya bukan tuan rumah. Setiap orang memiliki kesibukan dan kepentingan, kan. Apalagi kita sudah menjadi mahasiswa yang berpikiran dewasa dengan segala permasalahan yang kompleks dan rumit. Saya yakin, teman-teman pasti lebih mengutamakan untuk membereskan segala urusan di kampus agar bisa cepat-cepat lulus daripada terus bersenang-senang dan bersantai. Pacaran dan liburan tidak begitu penting daripada kesuksesan yang mungkin kita miliki kelak. Ah, sudahlah. Lupakan kalau saya pernah menulis kata-kata menjijikan barusan.

Secara keseluruhan, saya menyukai acara FOS goes to Pameungpeuk session 2. Acaranya lebih beragam. Untung adhit bisa ikut berpartisipasi sehingga saya bisa mengetahui kalau ada pantai di daerah gunung Gedher. Terima kasih atas partisipasi kalian semua, pals. Kita bisa saling cerita, berbagi, terbuka, dan bernostalgia bersama. Jangan kapok untuk datang kembali ke kampung halaman saya. Sampai jumpa di kumpulan FOS berikutnya. Insya Allah. *Ting ;) .

Selasa, 04 Agustus 2009

The Shortest Love Story I have Ever Had

Ok then, I wanna try to write something in my blog using english. With a good grammar hopely.

In my previous note, I told that I had fallen in love with someone at my theatre organization. He is my senior there. He has nothing special actually. In the other word, he is an ordinary person. Maybe I used my untruth feeling and I became ‘melankolis’ when I saw him working for my staging. Running from one side into the others. He was handsome and gorgeous in my eyes for that time only.

That’s why I am always thinking all about his nice and bad attitude (when I was staying beside him at sekre) every night after the staging until now, so that’s not strange if I miss him badly.

Yesterday, I visited sekre, the first visited time after my staging on last Friday. He was in upstairs when I arrived there. Dag dig dug, I feel soo nervous listening his ‘ehem’ voice. FOOL GIRL !

Then I went to Mang Endin Meatball with Arie for lunch. After eating my last meatball, I decided to go to sekre anymore. My friends sent me some texts that I must help them for cleaning sekre. Then I couldn’t reject their wish because of him ofcourse.

He was using ‘color biru’ with black jacket when I saw him in sekre. I felt he was in a bad condition. Yes, he had a bad cold. He wanted me to ‘memijit’ him in upstairs. And I did it after finishing my work. For the ‘imbalan’, he gave me a chocolate. But I forgot to bring it. Damn !

At 19.00ish, I sent him a text and he didn’t reply it. I known that he doesn’t have some ‘pulsa(s)’. I hope he can reply my text via facebook, but he didn’t do that too. Then I saw his account for a while. I saw he wrote something on izka’s wall. I also read their wall-to-wall. Suck, I found something which made my heart broken AGAIN. He likes her. That’s the conclusion that I have after reading their conversations.

I never judge all man have the same character, they like a perfect-beautiful girl. It depends everyman itself. I have ever felt that I could be someone who everyman like if I were a thin girl, and I have tried to be like that. But now I kow that all are bullshit. I fell better for being myself. My fat-funny-body is my beautiful ‘aset’. My parents said, “don’t think anything about a boyfriend now, because you are soo special and you should have the special boy one. Just the special one who could see the special thing inside your body and your heart. That is not because you are a rich girl and it is not because you are our lovely daughter. It is caused by yourself.”

So, my special feeling for him has gone in the 3rd day.

I need some dictionaries in my PC and my mobile too. All I have, everything has gone. Somebody, help me L

Sabtu, 01 Agustus 2009

How Come?

How to start it? it's too complicated and I really don't know how to start it.
Sebenarnya, saya tidak ingin mengakhiri ini semua. saya sudah mulai terbiasa dan sudah mulai menyukai mereka.
semua bermula dari paksaan untuk berperan dengan topeng-topeng yang sudah disediakan. saya pun berusaha mengikuti alur yang ada (walau dengan sangat terpaksa). Rasa lelah, jenuh dan penat benar-benar membuat saya harus berusaha lebih keras lagi.
Segala macam usaha saya coba untuk dapat menghilangkan kepenatan yang ada. Salah satunya adalah dengan berperan menjadi seorang gadis periang yang penuh dengan obsesi untuk mendapatkan orang yang dia sukai. Beberapa orang lelaki telah ada di list saya. saya merasa jauh lebih baik ketika peran saya juga ternyata membuat orang2 yang ikut dalam kegiatan tersebut jadi dipenuhi oleh tawa dan semangat.
hingga menjelang waktu-waktu puncak, saya dekat dengan seseorang. Kami sangat bertolak belakang bila ditinjau dari sifat masing-masing. Tapi jujur, saya sangat enjoy jika sudah becanda bersama dia.
Oh Tuhaaaaaaan !