Jumat, 23 Desember 2011

IBU, KADU, DAN MANGU

Kemarin, tanggal 22 Desember 2011, adalah hari yang didedikasikan untuk para ibu di dunia. Pada hari ibu, hampir seluruh anak merayakannya dengan cara yang berbeda-beda dengan tujuan untuk membuat ibu mereka bahagia pada hari itu. Hanya sebagian saja yang menganggap hari ibu sama dengan hari-hari lainnya. Saya termasuk ke dalam kumpulan sebagian orang yang menganggap hari ibu biasa saja. Saya bukan tipe orang yang suka merayakan sesuatu, kecuali tentu saja saya masih merayakan hari raya islam (karena itu adalah tradisi). Lagi pula, untuk membahagiakan ibu atau orang lain, menurut saya, tidak perlu pada hari tertentu. Lebih baik apabila melakukannya setiap saat kita bisa, kan(?)

Pada hari Kamis di hari ibu, saya melakukan aktivitas seperti biasa. Bangun pukul 05.00 WIB, sholat, mandi, sarapan, dan bekerja di Toko sampai pukul 16.30 WIB. Yang sedikit berbeda adalah sepulang kerja saya dan adik pergi jalan-jalan sambil membeli kadu (Durian) dan mangu (Manggis). Ketika membeli buah-buahan ini, naluri sastra menyimpang saya tiba-tiba saja muncul. Naluri ini sering sekali menemani ketika saya masih kuliah, dan saya senang, setelah sekian lama tak bersua, dia datang mengunjungi benak saya lagi, walau sekejap.

Dalam benak saya (pada saat itu), sang naluri menganalogikan buah kadu dan mangu itu sebagai seorang ibu. Bagi saya, yang merupakan penggemar berat kedua buah-buahan tersebut, saya selalu menunggu datangnya musim kadu dan mangu. Seperti halnya saya selalu menunggu kedatangan ibu apabila ibu sedang bepergian. Selalu ada yang kurang ketika saya tidak bisa mengecap rasa kadu dan mangu, seperti halnya ketika saya tidak bisa mengecup ibu. Apabila saya membeli kadu dan menyimpannya di rumah, aroma khas buah tersebut memenuhi seluruh ruangan di rumah. Tidak ada seorang pun yang tidak bisa mencium aroma tersebut, kecuali orang yang sedang sakit flu atau yang mengalami gangguan indera penciuman. Sama seperti ibu. Kehadirannya di dalam rumah tidak pernah terabaikan. Ada aura khusus yang menyelimuti seluruh rumah yang dipancarkan oleh seorang ibu, sehingga kita merasa betah.

Terakhir adalah mengenai kulit luar dari kadu dan mangu, jenis kulit yang berduri dan keras. Seperti halnya seorang ibu. Bukan, bukan jenis kulit yang sama tentunya. Seorang ibu, khususnya ibu saya, memiliki sikap yang tegas ketika mendidik anak-anaknya. Ibu juga sangat tegar dan kuat sehingga beliau mampu mengurus rumah tangga dengan sangat baik. Ibu selalu memberikan dorongan positif untuk ayah sehingga ayah selalu semangat bekerja demi keluarganya. Ibu yang menggunakan tameng sempurna untuk menutupi kelembutan (atau lebih tepatnya kerapuhan) yang ada di dalam hatinya agar keluarganya tidak ikut merasa rapuh dan lemah.

Saya sangat menyukai kadu dan mangu, seperti halnya saya sangat mencintai mamah…ups!...ibu. Jadi, salah satu alasan saya tidak merayakan hari ibu adalah karena saya tidak memanggil orangtua perempuan saya ibu, melainkan mamah. hehehe

Kamis, 25 Agustus 2011

Sebut saja Lembar Persembahan (Bagian 2-tamat)

Saya mempersembahkan ucapan terimakasih yang teramat banyak kepada orang-orang yang, secara langsung maupun tidak langsung, telah membantu saya dalam menyelesaikan skripsi saya yang berjudul “Repetisi dalam Penggambaran Gaya Hidup Hedonis dalam Tiga Novel Karya F. Scott Fitzgerald”; mereka adalah

1.Mamah dan Bapak.

2.Dosen-dosen Fakultas Sastra, khususnya bapak Ari J. Adipurwawidjana dan ibu Ida Farida serta para dosen pengutamaan sastra, yang sudah membagikan banyak ilmu dan pengalamanya.

3.Ilham Mulah Putra yang bersusah payah membuat kartu anggota perpustakaan Maranatha agar bisa meminjam novel-novel Fitzgerald yang saya butuhkan untuk menulis skripsi. Cobain ngetik di dalam perpus kampusmu sendiri, am. Semoga TAnya cepat rampung dan selalu semangat di tempat kerjanya. ;)

4.Mahesa Bagas Satya sebagai pembimbing ketiga yang selalu menyediakan waktu luang di sela-sela jadwal padatnya untuk berdiskusi, berbagi informasi, memasakkan kudapan enak, membantu membuatkan desain CD, membaca tulisan saya, dan tentu saja berhedon bersama sehingga saya bisa lulus sebulan setelah lulusnya sang legenda sastra. Sukses selalu, BagasSS! :D

5.Christy Tisnawijaya, Arlin Widyastuti, Peni Desiana, Yolanda Priska S., Ceriya Mayasari, Dyah Apriastuti CHP, Ihsan Naufal, Zita Reyninta S. dan semua teman-teman pengutamaan sastra 2011 yang selalu bergotong royong serta saling menyemangati dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah, selalu siap sedia apabila diajak berbagi informasi dan pastinya berhedon juga. Lekas bereskan punya kalian, temans. Jangan lupa selalu teror Teguh Wijayanto agar dia bisa mulai mengetik dan pensiun jadi pejabat.

6.Teman-teman kelas C 2007, Fathia Anggriani, Arie Bukhori, Risya Ayu, Miftahul Ilmi, Fifi K.J, Irfan Fahmi, Tika Febrianantya, Tia Lestari, Indra Maulana, dan lain-lain yang memberikan semangat dan motivasi untuk terus menulis.

7. Alfin Tofler yang tanpa pamrih selalu membantu mencarikan data-data yang saya butuhkan untuk menulis; Aditya Eko, Adyasa P.Devindra, dan Etzioni I. yang tidak lelah membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya; Ajeng Chunduk yang sukarela memberikan sarana penyalur informasi penting bagi saya dan teman-teman; Selly Andrea dan Andra N. Oktaviani yang terus mengingatkan dan memberikan semangat untuk terus menulis; Miranti C. yang sangat membantu memperbaiki penampilan saya sebelum sidang, dan teman-teman senior lainnya yang memotivasi saya untuk bisa segera merampungkan kitab keramat. Terimakasih, kaka.

8.Semua teman-teman yang meluangkan waktu untuk memberikan semangat dan selamat. Teman teman Sastra Inggris Angkatan 2007-2009, Pondok Roslina, PTS, GSSTF, KKN, FOS, dan semuanya, terimakasih banyak.

Saya akan sangat merindukan dipanggil bubidan. :) Sukses selalu untuk semuanya.

Sebut saja Lembar Persembahan (Bagian 1)

Sebelum menyebutkan orang-orang yang memiliki peran besar sehingga saya bisa mendapatkan gelar Sarjana Sastra, saya mau sedikit berbagi informasi (atau mungkin bisa dibilang curhat).

Sampai sekarang saya masih tidak menyangka bahwa saya bisa menyelesaikan studi di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran tepat waktu. Alasannya hanya satu, karena saya adalah mahasiswa Sastra Inggris pengutamaan sastra. Dari mulai saya menjadi mahasiswa tingkat 1, sudah banyak ‘katanya’ yang saya dengar dari para senior di kampus. Salah satu ‘katanya’ yang paling tersohor di setiap angkatan adalah “Jangan pilih pengutamaan sastra, katanya dosen-dosennya suka ‘membantai’ terus mahasiswa-mahasiswa di pengutamaan sastra lulusnya lama.”

Dari ‘katanya’ tersebut, saya (yang pada saat itu adalah seorang mahasiswa baru yang menganggap senior sebagai orang-orang yang lebih berpengalaman (dan keren (serta pintar))) tentu saja memercayai mereka dan mencap pengutamaan sastra sebagai hal yang menyeramkan. Pada saat itu saya beranggapan bahwa betapa hebat, berani, kuat, dan pintarnya senior-senior saya yang memutuskan untuk memilih pengutamaan sastra dan berhadapan dengan dosen-dosen yang suka membantai itu.

Selama proses pembelajaran (dari semester 1 sampai semester 4), saya memutuskan untuk menjadi mahasiswa yang mencari aman dengan cara selalu berada di barisan suara terbanyak. Misalnya, kalau kebanyakan teman saya pilih A, maka saya pun turut memilih A. Akan tetapi, ketika memasuki semester 5, saya meragukan keputusan yang saya buat sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh metode belajar-mengajar yang jauh berbeda yang saya terima di beberapa mata kuliah yang saya ambil pada waktu itu. Di semester 5 dan semester 6, banyak sekali ujaran “Ooooohhh gituu!” dan “Oh iya, ya!” di beberapa mata kuliah tersebut.

Singkat cerita, saya akhirnya berhadapan dengan semester 7. Memasuki tingkat 4, saya dan teman-teman wajib memilih pengutamaan. Pilihannya hanya ada dua, pengutamaan Sastra atau pengutamaan Linguistik. Saya pun memilih pengutamaan sastra. Sampai sekarang, saya tidak tahu alasan memilih pengutamaan ini. Apabila mengacu pada anggapan saya sebelumnya terhadap para senior yang masuk pengutamaan sastra, dapat dikatakan bahwa saya bukan orang hebat, saya sangat penakut, tentu saja saya juga tidak termasuk orang yang kuat, dan saya tidak pandai atau pintar (karena salah satu orang berpengaruh di kampus juga bilang “you are hardly intelligent”). Jadi, saya tidak punya bekal apa-apa ketika memilih pengutamaan sastra. Beberapa teman memilih pengutamaannya masing-masing dengan barbagai alasan, misalnya mereka ingin cari aman, karena ingin lulus cepat, atau karena tidak ingin bertemu lagi dengan dosen tertentu. Kalau saya, saya sekadar ingin memilihnya saja.

Pada awalnya, saya merasa takut dan ingin sekali mundur karena saya tidak memiliki alat tempur apapun untuk menghadapi para dosen yang ‘katanya’ suka membantai. Namun, semakin sering masuk ke kelas sastra, saya menyadari bahwa banyak sekali hal yang belum saya ketahui dan juga banyak sekali hal penting yang saya abaikan di masa sebelumnya. Oleh sebab itu, makin banyak ujaran “Ooooohhh gitu!” dan “Oh iya, ya!” yang keluar. Mengenai masalah bantai-membantai, saya rasa maksud para senior dari ‘dosen-dosennya suka membantai’ di sini adalah para dosen pengutamaan sastra selalu memberikan banyak sekali bahan bacaan serta tugas membuat tulisan atau esai. Tidak ada soal pilihan ganda atau jawaban singkat di semua UTS dan UAS mata kuliah pengutamaan sastra. Di pengutamaan sastra, mahasiswanya dituntut untuk rajin membaca dan menulis kalau mereka ingin keluar hidup-hidup (atau keluar kelas dengan nilai memuaskan). Tidak baca + tidak menulis = mendapat nilai kecil.

Saya sudah bicara terlalu banyak. Sebaiknya saya mulai menulis kesimpulan informasi (atau curhat) ini dan memulai menulis daftar orang-orang yang saya janjikan sebelumnya. Jadi, bagi siapa saja yang membaca tulisan ini (khususnya) teman-teman angkatan 2008, 2009, 2010, 2011, dan seterusnya, kalian boleh saja mendengar ‘katanya’ yang sudah melegenda tersebut, tapi janganlah langsung memercayainya. Pertama, tanyakan dulu berapa IPK senior kalian yang menyebutkan ‘katanya’ tersebut, terus tanya juga apa pengutamaan yang dia ambil beserta alasannya dan jangan lupa, tanya juga dia angkatan berapa. Saya, yang juga merupakan senior angkatan 2007 lulus dengan IPK terakhir 3,10 dan mengambil pengutamaan sastra, ingin bilang bahwa ‘katanya’ tersebut tidak boleh kalian percayai. Selama belajar di kelas-kelas pengutamaan sastra, kami diajarkan untuk menjadi berani (mengeluarkan pendapat), kuat (menghadapi sepetan atau sindiran para dosen),dan rajin (membaca dan membuat tulisan), sehingga kalau sudah waktunya menghadapi dunia kerja, kita sudah memiliki senjata untuk melawan para pembantai yang sebenarnya. *agak lebai memang, tapi…sudahlah*

Satu paragraf terakhir ya! Janji! Menurut saya, lulus cepat tidak tergantung pada pengutamaan yang dipilih atau kepintaran yang dimiliki, tetapi hanya tergantung pada sifat rajin saja. Rajin kuliah, rajin baca, rajin nulis, dan rajin bimbingan.

kenapa ‘tin’ dan kenapa ‘pus’.

Nama saya Widi Zakiyatin Nupus. Ketika saya menyebutkan nama lengkap, tidak sedikit orang yang bertanya tentang arti dari Nupus dan juga perubahan dari Zakiyatun menjadi Zakiyatin. Sebenarnya, saya mempunyai alasan tersendiri akan hal tersebut.
Ketika lahir, kakek saya memberikan nama Zakiyatun Nufus. Kakek menulisnya menggunakan tulisan arab di secarik kertas. Nama tersebut berasal dari bahasa Arab, Zakiyatun memiliki arti bersih dan suci, sedangkan nufus berarti jiwa. Ayah saya memberikan nama Widi sebagai nama depan. Dalam bahasa Sunda, ada istilah ‘diwidian ku gusti’ yang berarti diridhoi oleh Tuhan. Maka Widi dapat diartikan sebagai Ridho. Jadi, nama lengkap saya yang sebenarnya adalah Widi Zakiyatun Nufus memiliki arti jiwa yang bersih, suci dan diridhoi.
Saya adalah seorang anak yang sangat bahagia karena mendapatkan banyak kasih sayang dan perhatian dari orangtua dan dari orang-orang sekitar. Mamah pernah bilang, di mana pun saya singgah, saya akan mendapatkan banyak perhatian dan disukai oleh orang-orang yang berada di tempat yang saya singgahi. Dan hingga detik ini, perkataan mamah memang terbukti benar. Orang-orang baru yang saya temui, baik yang lebih tua, seusia, maupun yang lebih muda, selalu memberikan respon positif terhadap saya. Hal tersebut tentu saja memiliki penjelasan. Dari kecil, mamah selalu mengajarkan anak-anaknya untuk bersikap sopan dan bertutur kata halus kepada keluarga serta kepada setiap orang yang ditemui. Hal kecil semacam sapaan sopan ataupun hanya memberikan senyuman kepada orang lain yang baru ditemui akan memberikan kesan baik. Preman sekali pun akan segan untuk mengganggu kita apabila sikap kita sopan terhadap mereka.
Akan tetapi, tidak semua orang menghargai sikap seperti itu. Di tulisan saya sebelumnya, saya sudah menerangkan bahwa saya dibesarkan oleh keluarga yang serba berkecukupan. Kondisi badan saya pada saat itu terbilang sehat dan bentuk tubuh saya ideal, namun saya dianggap gemuk karena saya bersekolah dasar di perkampungan yang mayoritas anak-anaknya serba hidup kekurangan. Banyak anak-anak yang sedang nongkrong di jalan yang mengejek saya sebagai gadis gemuk. (selengkapnya ada di widinupus.blogspot.com)
Pada saat itu, acara Si Doel Anak Sekolahan merupakan acara TV yang sangat diminati oleh banyak orang. Di sana terdapat tokoh yang bernama Zaitun yang dipanggil Atun. Atun memiliki badan yang subur, dan tentu saja hal itu berdampak pada panggilan masyarakat terhadap orang-orang berbadan subur di lingkungan tempat tinggal mereka. Orang-orang yang berbadan subur diidentikan dengan tokoh Atun, dan saya termasuk ke dalam kategori tersebut. Setiap berjalan kaki, walau saya berusaha untuk bersikap seramah mungkin, selalu saja ada orang iseng yang mengejek saya gendut dan/ memanggil saya dengan sebutan Atun. Begitu pula dengan teman-teman jail yang sudah tahu nama lengkap saya dan menemukan kata Atun di ZakiyATUN, mereka otomatis juga memanggil saya demikian.
Saya memiliki sifat sangat sensitif. Banyaknya ejekan dari orang-orang iseng tersebut membuat saya tumbuh menjadi gadis yang tidak percaya diri dan selalu memandang diri saya rendah. Panggilan Atun membuat saya tidak suka dengan nama saya sendiri karena Atun mengingatkan bahwa saya memiliki badan gemuk dan karena badan gemuk, saya menerima ejekan-ejekan tersebut dari orang-orang. Oleh sebab itu, saya meminta kepada pihak sekolah untuk mengubah Zakiyatun menjadi Zakiyatin di daftar hadir, daftar nilai dan bahkan ijazah saya.
Mengenai perubahan Nufus menjadi Nupus dapat saya jelaskan secara singkat. Penjelasan pertama, perubahan huruf ‘f’ menjadi ‘p’ merupakan pengaruh kesundaan keluarga saya. Saya dan keluarga, yang berdomisili di Tasikmalaya dan juga Garut (tepatnya Pameungpeuk), adalah suku Sunda. Semua orang tahu bahwa Sunda sangat akrab dengan huruf ‘p’. Ketika hendak menyebutkan kata Nufus, orang sunda akan menyebut Nupus. Maka, terdapat beberapa kesalahan pengucapan yang kemudian menimbulkan kesalahan penulisan dari Nufus menjadi Nupus di surat-surat penting keluarga saya, termasuk akta lahir. Penjelasan kedua, kakek saya memberikan nama Nupus tersebut kepada setiap cucu perempuannya. Misalnya sepupu saya bernama Anissa Nur Fitri Yatin Nupus dan ada pula sepupu lain yang bernama Avina Nupus. Jadi, Nupus yang berasal dari kata Nufus menunjukkan bahwa saya adalah orang Sunda, dan Nupus merupakan sebuah identitas (atau bisa disebut sebagai marga) yang diberikan kepada cucu perempuan kakek saya.
Kalau ada orang yang bertanya mengenai Zakiyatin atau Nupus lagi, saya berharap dapat menyodorkan tulisan ini tanpa harus menjelaskannya secara lisan.

Rabu, 11 Mei 2011

Saya Gemuk, dan Saya tidak Menyesalinya

Sekali-kali, saya ingin meluapkan emosi yang terlalu lama disimpan dan saya abaikan. Sebenarnya saya malu membuat tulisan ini, tapi hanya dengan tulisan, saya bisa dengan lancar mengeluarkan segalanya.

Saya terlahir dari keluarga yang sangat bahagia, dan (alhamdulillah) cukup berada. Hal ini dapat terlihat jelas dari kondisi fisik saya dan anggota keluarga lainnya. Ya, kami semua berbobot diatas rata-rata alias gemuk. Orangtua saya mendidik anak-anaknya untuk tidak boros berbelanja barang-barang yang nantinya akan rusak, dan kita pun tidak merasa puas dengan berang-barang tersebut. Mereka lebih mengarahkan anak-anaknya untuk memuaskan diri dengan makanan. Bapak saya pernah berkata “Kita kerja agar bisa makan, dan kita bisa hidup karena makan.” Oleh karena itu, anak-anak mamah dan bapak lebih puas belanja banyak makanan daripada pakaian, tas, atau sepatu. Bapak saya juga selalu mengajarkan untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak membeda-bedakan teman. Kalau mendapat rezeki, bapak selalu mencontohkan bagaimana caranya berbagi dengan orang-orang yang kurang mampu. Salah satunya lewat makanan.

Sebenarnya, sewaktu masih sekolah dasar, bobot tubuh saya terbilang ideal. Namun, karena saya bersekolah di lingkungan masyarakat dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan, saya terbilang gemuk apabila dibandingkan dengan teman-teman sekolah saya yang lainnya. Saya sering terpuruk karena ejekan dari teman-teman saya di sekolah. Ejekan-ejekan tersebut tak berhenti saya terima dari SD sampai SMP hanya karena saya berbadan gemuk. Mungkin, kegemukan bagi mereka adalah semacam aib yang sangat memalukan. Sekali lagi, bapak dan mamah saya selalu membuat saya terus bertahan menerima ejekan-ejekan itu. Mereka mengajarkan saya agar terus ikhlas dan bersabar.

Menginjak pendidikan SMA, saya berkelana ke Garut kota. Saya bersekolah di salah satu sekolah terbaik di wilayah Garut. Saya tinggal di rumah saudara selama setengah tahun. Akan tetapi, dikarenakan satu dan lain hal, saya meminta kepada orangtua untuk tidak lagi menyusahkan saudara saya tersebut dan lebih memilih hidup sendiri di sebuah kosan. Dari kehidupan kosan, saya mulai belajar mengatur kehidupan sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Saya pun mulai mengetahui bahwa saya sangat senang berada di dapur dan bereksperimen dengan bahan makanan yang ada. Sangat menyenangkan memiliki keluarga dan teman-teman baru yang bisa diajak untuk memasak bersama di akhir pekan, dan hasil masakannya kita makan bersama. Itu lebih indah daripada makan bersama saudara sendiri yang kita tidak tahu apakah dia ikhlas memasakkan makanan tersebut atau tidak. Kegemaran memasak saya sangat didukung oleh mamah dan bapak. Setiap pulang di musim liburan, selalu tersedia bahan makanan yang bisa saya olah di dapur.

Orang gemuk identik dengan banyak makan. Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan itu. Justru menurut saya, gemuk tidak selalu berbanding lurus dengan pasokan makanan berat yang diterima perut mereka. Orang-orang selalu menghakimi secara sepihak tanpa memperhatikan sisi lainnya. Saya sendiri hingga sekarang masih makan sewajarnya, dua kali sehari dengan porsi wajar pula. Hanya saja, saya suka mengumpulkan cemilan. Disaat merasa tertekan baik oleh tugas kuliah atau masalah, saya melampiaskannya dengan makan cemilan. Cemilan tidak akan lupa saya cantumkan dalam daftar belanjaan bulanan.

Latar belakang saya menulis tulisan ini adalah teman-teman dekat saya sendiri. Saya pikir, setelah menginjak dunia perkuliahan, saya tidak akan menerima ejekan-ejekan lagi. Kita sudah cukup dewasa untuk tidak menilai orang secara fisik. Tetapi, ejekan-ejekan itu masih tetap ada dengan ‘kemasan’ yang baru.
Ketika belanja bulanan bulan ini, ada seorang teman yang ingin turut serta. Teman saya kaget melihat belanjaan saya. Dia bilang “wid, kapan mau berubahnya kalau belanjaannya kayak gitu semua?” ada juga beberapa teman yang menyarankan banyak produk pelangsing untuk merubah saya menjadi apa yang MEREKA inginkan.

Saya menikmati menjadi diri saya sekarang, saya tidak menyesali apa yang sudah tuhan berikan, dan saya tidak ingin merubahnya. Kenapa mereka yang repot-repot ingin merubah saya? Mereka malu berteman dengan saya? Lantas, kenapa mereka mau berteman kalau mereka malu? Berteman saja dengan orang-orang berbadan ideal. Selesai perkara. Mungkin saya pernah terhasut untuk menjadi apa yang MEREKA inginkan, tapi mamah saya terus-terusan mengingatkan, “ada masanya teteh berubah. Saat ini bukan masa yang tepat. Jadi, buat apa dipaksakan untuk berubah?”

Intinya, silakan anggap saya orang asing kalau memang malu berteman dengan saya. Sekian.

Kamis, 21 April 2011

Motto Hidup Bapak

"Kita harus Bekerja keras agar hidup sejahtera, memiliki jiwa seni agar hidup indah, dan memiliki agama agar hidup terarah." -H.Jaka
Bapak adalah panutan saya. saya bangga menjadi putrinya. saya bangga memiliki bapak yang sangat pengertian, cerdas, dan sangat sayang pada keluarga. Walau kami tak banyak berbicara satu sama lain, bapak sudah mengungkapkan rasa sayangnya yang teramat besar lewat diamnya.

Saya Sudah Punya Judul Skripsi!

Bagi saya dan sebagian teman-teman di kelas pengutamaan sastra, tanggal 20 April termasuk kedalam hari yang sakral. Pada hari itu, diadakan seminar usulan judul skripsi. Ya, Saya mahasiswa tingkat 4 yang mau tidak mau harus sudah mulai berkutat dengan kitab sakral yang bernama skripsi. :)
Dalam seminat tersebut, saya mendapat giliran sebagai penyaji keempat setelah Bagas, Ola, dan Ami. Suasana saat itu sungguh mencekam. ditambah, malam sebelumnya, saya merasa ragu dengan judul dan bahan yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari.
Singkat cerita, giliran saya presentasi. Saya menyampaikan semua yang sudah saya temukan di dalam karya-karya yang menjadi bahan analisis saya. Kemudian, setelah presentasi selesai, para(ge)dewa(duk)[panggilan untuk dosen-dosen sastra yang teramat pintar (berkata-kata)] mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan yang entah kenapa, pada saat itu saya tidak mengerti sepatah kata pun pertanyaan mereka. Untungnya, saya masih bisa menjawab walau seadanya.
Mereka pun memperbaiki judul yang sudah saya usulkan dikarenakan berbagai hal yang kurang signifikan. Setelah itu, mereka menyuruh saya untuk membacakan judul akhir. "bismillah, judul skripsi saya adalah Repetisi Dalam Penggambaran Gaya Hidup Hedonis Dalam Tiga Novel karya F.Scott Fitzgerald."
Setelah salah satu dosen mengetuk palu 3 kali sebagai tanda perstujuan, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Semangat, Widi! :D

Jumat, 11 Maret 2011

Sunatan itu MENYEBALKAN!

Well, actually sunatan does not suck at all. Sebenarnya saya nya aja yang takut melihat orang disunat. ehehhe.
Dari kecil, saya paling tidak bisa menghadiri undangan sunatan. Saya takut melihat anak cowok yang tidak memakai celana dan memamerkan alat vital yang berlumuran obat pereda sakit dan sebagainya. Entah dari mana ketakutan itu muncul. Sialnya pada saat itu saya memiliki adik yang cukup umur untuk bisa disunat. Kalian tahu? hari dimana acara sunatan adik saya benar-benar menyebalkan.

waktu itu sekitar 13 tahun yang lalu, saya masih duduk di bangku kelas 3 SD. Mamah dan Bapak saya baru pulang dari Mekah, dan mereka memutuskan untuk mengadakan acara syukuran sekaligus sunatan adik saya yang bernama Reza. Kebahagiaan saya karena akan diadakannya pesta syukuran kepulangan mamah dan bapak pun musnah seketika. Saat itu juga, saya memutuskan untuk tidak mengikuti acara keluarga tersebut dan memilih untuk tetap pergi sekolah. Malam sebelum syukuran dimulai, dokter datang ke rumah untuk memermak alat vital Reza. Mungkin karena badan dia yang tambun, dokter jadi sulit untuk memotong bagian yang seharusnya dipotong. Reza menangis dan teriak-teriak ketika dokter terus berusaha untuk menyelesaikan tugasnya. Saat itu, saya sudah pindah kediaman. Saya tidur di dapur bersama salah satu saudara saya selama Reza belum bisa memakai celana. Di dapur, kami cemas ketika Reza teriak-teriak kesakitan karena obat bius yang diberikan dokter tidak bekerja. Saya melihat nenek turun ke dapur dan menangis tak tega. Beberapa waktu kemudian, akhirnya prosesi memermak pun selesai.

Paginya saya berangkat ke sekolah. Alangkah senang bisa bermain bersama teman-teman disana daripada harus berlama-lama tinggal di dapur. Saya kaget ketika seorang guru memanggil saya ke kantor. Saya pikir, saya melakukan kesalahan, tapi ternyata, mereka hanya menanyakan alasan saya tetap pergi sekolah padahal di rumah sedang diadakan hajatan. Ternyata lagi, sekolahnya cuma setengah hari karena mereka akan menghadiri hajatan orangtua saya. Sampai rumah, suasana sangat riuh. Banyak tamu, banyak aneka jenis makanan yang terhidang, dan banyak pagar ayu. Disana, saya melihat sepupu yang didandani. dalam hati, saya berkata dengan dongkol, harusnya saya yang jadi pagar ayu utama pada hari itu. Saya tergiur untuk memakan semua jenis hidangan, tapi saya memilih untuk pergi ke dapur daripada nanti ketika saya berkeliling ke setiap tenda untuk memakan makanan disana, adik saya tiba-tiba jalan keluar, dan saya melihat dia dan alat vitalnya itu.

Selama tiga hari, saya menginap di dapur. Saya tidak bisa leluasa berbuat apapun. Saya juga tidak bisa makan makanan hajatan sepuas yang saya mau. Saya hanya bisa memakan sisa makanan. How poor I was. Malam berikutnya, bapak datang ke dapur. Dia mungkin baru menyadari ketidakhadiran putrinya selama beberapa hari di ruang keluarga. Bapak mengajak saya pergi ke atas. Dia meminta saya untuk tidur di ruang TV sambil membujuk bahwa Reza tidak akan berjalan dan berada di ruang yang sama dengan saya. Saya pun akhirnya menurut, dan berani tidur di atas bersama bapak dan saudara lainnya.

Dikarenakan ketakutan yang berlebih, saya menderita selama beberapa hari. Tentunya menderita lahir dan batin. hehhehe. Waktu bercerita sama mamah tentang peristiwa hajatan itu beberapa tahun berikutnya (tepatnya 2010), mamah baru menyadari bahwa saya tidak menjadi pagar ayu di hajatan tersebut dan tidak berada di ruang atas selama beberapa waktu. *jleb!

Random Story

Klise dan monoton kalau misalnya kita membicarakan masalah hati dan cinta, tapi apa boleh buat, sebagai manusia yang punya hati (baca. perasaan), kita tidak bisa mengelak dari yang namanya cinta, meski cinta itu sendiri bersifat abstrak.
Marilah mulai menyimak cerita saya, karena mungkin, tulisan mengenai jatuh hati, cinta dan teman-temannya akan jarang bertengger di blog saya ini. yah, setidaknya setahun hanya ada satu atau dua cerita (padahal lebih). hehehe.
saya sudah kenal dan sering melihat sosok dia, kami saling kenal satu sama lain, saya yakin. Hanya antara kami, tidak ada yang mau mulai menyapa. Saya sendiri merasa sangat malu dan grogi kalau misalnya bertemu dengan dia. Jarak kami sebenarnya sangat memadai untuk bisa mengobrol tiap hari. Bahkan, banyak sekali hal dan orang yang menghubungkan kami, sehingga kami akan bisa sangat nyambung kalau mengobrol.
Sekarang, kami sudah bisa berkomunikasi meski tidak selancar yang diinginkan lewat dunia maya. Di dunia nyata, kami hanya bertegur sapa sekali. Akan tetapi, efeknya masih terasa sampai sekarang. Saya ingin selalu curi-curi pandang ke arahnya. Dia sungguh manis dan sopan.
Teman baiknya adalah teman baik saya juga. dia cerita banyak tentang sifat orang yang sedang saya senangi. dia bilang "he's the nicest person ever." katanya, orang yang belum kenal dengannya, akan mengasumsikan keakraban mereka seakan lelaki itu sedang melakukan pendekatan. Padahal memang sikapnyalah yang terlalu ramah. Ini mengingatkan saya pada teman dekat yang pernah saya sayangi. Saya pun sudah menyiapkan ancang-ancang untuk hal yang pernah saya alami sebelumnya.

Well, saya rasa ini adalah tulisan yang paling sampah dan tidak penting yang pernah saya tulis. Apa boleh buat, saya butuh pelampiasan. Jadi, tulisan ini akan terpajang di blog ini sebagaimana mestinya. hahahha.

Selasa, 08 Maret 2011

Bertahan tanpa Facebook

Awal bulan Maret, saya membuat sedikit perubahan mengenai pola pemanfaatan waktu. Selama berkuliah di Universitas Padjadjaran, Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, saya mencatat sedikit sekali waktu yang benar-benar saya gunakan untuk hal yang bermanfaat. Menginjak usia yang ke-22, saya mencoba untuk mengumpulkan berbagai macam penyebab yang membuat waktu saya terbuang percuma.

Setelah ditelusuri, penyebab yang paling besar yang saya punya adalah akun facebook saya sendiri. Ketika masih agak asing dengan dunia maya, saya masih bisa fokus terhadap apa yang saya kerjakan dan juga banyak melakukan hal yang bermanfaat. Di tahun ketiga saya berkuliah dan menetap di Jatinangor, saya mencoba untuk mengenal lebih dekat dunia maya, saya memasang koneksi internet di kostan yang sekarang. Hasilnya, kami teramat sangat akrab sehingga tidak bisa berpisah jauh dalam jangka waktu beberapa jam. Kerjaan saya hanya duduk di depan layar Laptop, bermain games di Facebook, melihat-lihat akun teman-teman, dan juga foto-foto mereka. Jadwal belajar, mengerjakan tugas, dan membereskan kamar pun jadi kacau. Ditambah lagi dengan tumbuhnya penyakit hati melihat kebahagiaan orang lain. Timbul rasa iri dan cemburu yang membuat saya tersiksa.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan sejenak jejaring sosial Facebook, membandingkan kehidupan saya ketika masih akrab dan sudah berpisah dengannya. Hasil yang saya rasakan setelah 8 hari berpisah adalah cukup memuaskan, saya bisa mengerjakan tugas baca tanpa hambatan, membereskan kamar dengan teratur, dan membuat 2 tulisan baru di Blog saya, salah satunya tulisan ini. :)

Dia Menelanjangi Saya Diam-Diam

Itu terjadi pada tanggal 07 Maret kemarin, ketika kami merencanakan pertemuan yang tidak biasa kami lakukan di waktu dulu. Awalnya, saya menikmati kebersamaan kami, becanda, tertawa, dan adakalanya serius sambil tak lupa menikmati makanan kecil yang tersedia. Jarang sekali kami melakukan hal yang berbeda seperti ini. Biasanya kami tidak memedulikan hal serumit ini, kami selalu membiarkannya berlalu seperti itu, tanpa diperhatikan lebih lanjut. Pertemuan ini sungguh mengubah pandangan kami.

Hingga beberapa waktu berselang, dia meminta ijin untuk memasuki kamar saya. Saya tidak berpikir akan terjadi hal seperti ini, dikarenakan kelakuannya yang saya kenal selama ini tidak memiliki cacat yang cukup signifikan. Saya tidak menyangka dia berani berbuat hal yang serendah itu. Kekesalan mulai menjalar, namun dia seolah tak peduli dan menikmati apa yang dia lakukan. Saya hanya bisa pasrah sampai dia sadar dan meminta maaf setulus hati serta menyadari kesalahan yang telah dia perbuat.

Di satu perkuliahan, dosen saya pernah berkata, harga diri kalian bukan hanya menempel di badan, tetapi juga menempel di barang-barang yang kalian miliki. Sebagai contoh, ketika sedang ujian, ada teman yang mencontek pekerjaan kita, secara tidak langsung dia sudah menelanjangi diri kita. Seolah-olah melihat badan yang dengan hati-hati kita sembunyikan. Harga diri kita akan semakin tidak bernilai ketika kita membiarkannya dengan leluasa menelusuri tiap isi yang ada didalamnya.

Pada awalnya, saya tidak memedulikan hal tersebut. Alasannya adalah karena kebersamaan jauh lebih penting daripada nilai. Pemikiran yang teramat sangat naif pada masa itu. Kejadian hari Senin itu telah merubah cara pemikiran dan pandangan saya akan betapa pentingnya menjaga diri sendiri dan memiliki sifat individualis (pada waktu tertentu) daripada mementingkan orang lain yang belum tentu dia menghargai kita. Ketika melihat teman saya membuka semua folder dan mengambil beberapa file dari laptop saya tanpa meminta ijin, saya merasakan seolah-olah ditelanjangi habis-habisan. Dia menjelajahi semua privasi yang saya miliki. Kegiatan diskusi yang menyenangkan pun berakhir oleh perasaan yang benar-benar membuat sisa hari saya seperti berada di tempat yang paling buruk sedunia. Beginikah rasanya ditelanjangi oleh orang yang tidak kita harapkan?

Rabu, 09 Februari 2011

Menyatu bukan berarti ...

menyatu dengan tanah bukan berarti terkurung didalamnya;
menyatu dengan angin bukan berarti terbawa hembusannya;
menyatu dengan air bukan berarti tenggelam selamanya;
menyatu dengan tumbuhan bukan berarti ikut terdiam dengan
akar/kaki yang tertancap di tanah, meski dihempas badai, diterjang banjir, atau dilahap api.

-Widi Z.N.

Selasa, 08 Februari 2011

Lee Seung Gi and "My Girlfriend is a Gumiho"

the awesome korean drama ever. this is the second korean drama which I love. Yeah. fullhouse is the first. Ini juga yang menjadi pemicu pertengkaran kecil mamah dan putrinya. :(
By the way, Lee Seung Gi, my fav korea-actor plays nice. His gumiho also.

video

Like Mother Like Daughter

Semester 7, yang menurut senior-senior saya di kampus adalah semester yang paling menakutkan dan merupakan mimpi buruk, telah saya lewati. Alhamdulillah saya masih selamat dan masih ada sisa semangat untuk menghadapi akhir semester di masa perkuliahan saya. Awal bulan Januari saya sudah bisa berlibur di rumah. Liburan yang cukup lama. Satu bulan.

Well, sebenarnya saya waswas menghadapi liburan selama itu. Jika saya terlalu lama berada di rumah, selalu saja ada konflik yang terjadi antara saya dan anggota keluarga lainnya, terutama dengan mamah. Kami, ibu dan anak perempuan satu-satunya, memang teramat sangat akrab. Saya tidak segan-segan memeluk atau mencium atau bahkan memegang payudara mamah ketika kami berpapasan. Mamah adalah teman curhat yang paling mengerti kondisi dan keadaan saya. Segala macam unek-unek yang saya pendam, selalu saya tumpahkan ke mamah. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman sambil berpelukan, atau sambil saya memijat/menggaruk punggung/melulur badan mamah.

Perbedaan saya dan mamah yang paling tampak adalah dari segi kerajinan. Kalau saya sudah berada di rumah, saya layaknya seorang putri raja yang (di mata mamah) tidak pernah menyapu, mencuci, dan melakukan apapun. Kerjaan saya hanya makan, tidur, dan nonton TV. Itulah yang selalu menjadi pemicu konflik antara saya dan mamah kalau saya terlalu lama berada di rumah. Mamah selalu membandingkan saya dan dirinya. Serajin apapun kerjaan yang saya lakukan, selalu saja terasa kurang di mata mamah. Memang, saya tidak serajin mamah, di mata mamah, saya adalah seorang pemalas akut. Terkadang saya ingin bilang kalau saya dikenal paling rajin di kosan, bahkan ketika saya KKN. Saya hampir tidak pernah mencuci ke laundry kecuali untuk mencuci handuk, bedcover atau mukena, saya selalu membereskan kamar pagi-pagi. Menyapu, menghilangkan debu-debu, dan menata barang-barang agar terlihat rapi. Tapi semuanya percuma, karena saya dibandingkan sama mamah yang memang tidak pernah bisa duduk tenang kalau masih melihat tempat berantakan/kotor.

Cara kami kalau sedang berselisih adalah saling diam. Kami berdua sama-sama keras kepala. Harus ada orang yang menjadi pembuka obrolan. Baik itu mamah atau saya. Gengsi saya sangat tinggi, saya akan bertahan selama mungkin sampai akhirnya mamahlah yang selalu mengalah. Setelah 2-3 hari kita saling diam, mamah selalu membuka obrolan lebih dulu. Suasana antara kami kembali hangat.
Konflik terjadi ketika mendekati akhir liburan, tepatnya tanggal 3 Februari 2011. Sore itu kami sekeluarga akan pergi ke Joglo, dan biasanya kami berada disana sampai pukul 22.00 WIB. Pada hari itu, saya keasyikkan nonton drama korea. Saya selalu packing pada malam hari (sebelum keberangkatan besok subuh) setelah shalat maghrib, namun saya lupa kalau hari itu kami akan pergi ke Joglo. Akhirnya saya bilang ke mamah, “mah, jangan terlalu malam pulangnya, teteh belum beres-beres buat kembali ke Jatinangor.” Mungkin mood mamah sedang jelek karena capek beberes dan bantu bapak di toko, dengan sedikit menyentak, mamah menjawab “teteh ngapain aja dari tadi? Mamah mah tinggal santai, semua kerjaan mamah, termasuk menyiapkan keperluan teteh udah beres. Ini cuma masukin baju ke tas aja belum dikerjain.” Yah, saya pergi ke kamar, dan lanjut nonton drama korea, tanpa memedulikan panggilan mamah yang akan berangkat ke Joglo.

Hingga keberangkatan. Saya tidak bicara sama sekali. Saya hanya pamitan, memberi ciuman dengan dingin dan langsung pergi. Saya tidak mengabarkan mamah ketika sudah sampai di kosan, dan sampai saat ini, tanggal 8 Februari 2011, saya tidak pernah menghubungi atau dihubungi mamah. Padahal kami selalu mengobrol minimal setengah jam setiap dua hari sekali. Mungkin bagi anda yang membaca tulisan ini berpendapat saya yang salah. Memang, saya salah. Ego saya terlalu tinggi, dan saya tersiksa kerena itu. Saya selalu menangis tanpa sebab kalau ingat pertengkaran kami. Saya sayang sekali sama mamah, tapi saya terlalu sensitif dan gampang tersinggung kalau mamah sudah membandingkan tingkat kerajinan kami berdua. Mungkin sekarang mamah sudah menunggu isyarat saya agar mamah bisa menghubungi putrinya. Adik saya selalu sms setiap malam, seakan dia disuruh oleh mamah.

Speechless, SAYA KANGEN SAMA MAMAH!


foto mamah sama fa'i

Minggu, 02 Januari 2011

Batal jadi Pagar Ayu

Kakak teman dekat saya akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 26 Desember 2010, dan teman saya tersebut meminta secara langsung agar saya bisa ikut berpartisipasi dalam pesta itu sebagai pagar ayu. Kebetulan dari tanggal 20 saya sudah berada di rumah dan saya tidak memiliki kesibukan yang berarti pada saat itu. Dua Hari sebelum pesta pernikahan berlangsung, saya berkunjung ke rumah yang punya hajat. Kebetulan saya dan keluarga ini memiliki tali persaudaraan, walau agak sulit untuk menguraikan tali tersebut. :)
Ketika kami sedang fitting baju, saya sudah merasa bahwa tidak ada baju yang sesuai dengan kondisi tubuh saya. Dikarenakan liburan yang cukup panjang, tidak ada kerjaan yang berarti yang dapat saya lakukan selain masak, makan, nyanyi, baca, dan tidur. otomatis badan saya semakin melar. Bagaimanapun juga, saya berusaha untuk tampil sebaik dan secantik mungkin di pesta pernikahan teh Isa. Kebaya andalan kembali saya gunakan agar terlihat lebih kemayu.
inilah beberapa momen yang dapat saya abadikan di pesta tersebut.








Disana, saya bertemu dengan beberapa teman baik saya ketika kami duduk di bangku SMP. ada pula guru bahasa Inggris favorit saya, serta guru-guru lainnya. wajar, orangtua yang pihak perempuan adalah seorang guru. What a life.

Surat untuk Sahabat Pena

Senin, 03 Januari 2011: 01.38 WIB

Ketika kamu sedang terlena di alam mimpi, aku justru tak bisa memejamkan mata malam ini. Daripada aku menghabiskan waktu percuma, aku memilih untuk memberanikan diri menulis surat ini untuk kamu.

Sedikit bernostalgia, kita saling kenal secara tidak langsung ketika kita sama-sama duduk di bangku SMP. Kamu yang dikenal sebagai siswa yang pintar, aktif, cerdas, dan dikagumi oleh beberapa teman perempuanmu. Sedangkan aku waktu itu hanya menjadi seorang siswi aktif yang cuma jago kandang. Kelas 2, kita dipertemukan di salah satu kelas favorit, dan hubungan kita jauh lebih akrab daripada sebelumnya. Banyak sekali kejadian yang membuat tawa kita lepas setiap harinya. Aku ingat, waktu itu semua orang seumuran kita sedang tergila-gila dengan sosok F4 yang pada saat itu tengah menjadi idola. Tapi, apa kamu tahu kalau kamu dan ketiga temanmu adalah orang-orang yang lebih aku idolakan dari F4. Aku tidak munafik, waktu itu aku juga membeli kaset asli F4, tapi aku lebih senang mendengarkan celotehan kalian daripada memutar lagu-lagu mereka. Menginjak kelas 3, kita tidak lagi sekelas. Hal itu membuat kita jarang bercanda dan berkomunikasi. Mungkin kita hanya bertegur sapa ketika kamu meminjam LKS aku untuk dicontek.  Dari kebiasaan itu, aku berinisiatif untuk menaruh beberapa lembar kertas kecil yang aku isi dengan curhatanku di dalam plastik sampul LKS yang selalu kamu pinjam. Aku berharap, kamu membaca keluh kesahku. Tidak disangka, aku menemukan beberapa kertas asing dalam LKS itu keesokan harinya. Senang sekali karena kamu membalas semua curhatanku. Komunikasi kita terus berlanjut melalui kertas yang diselipkan di LKS. Setiap hari ada saja cerita berbeda yang kita utarakan, sehingga aku bisa mengenalmu lebih jauh. Kegiatan tersebut berakhir ketika kamu menjalin hubungan dengan teman sekelasmu. Entah kenapa, aku sangat kecewa. Tetapi aku hanya bisa pasrah saat itu.

Setelah lulus SMP, aku melanjutkan sekolahku di daerah yang cukup jauh dari rumah dan tentu saja jauh dari kamu juga. Aku perlahan-lahan mencoba melupakan keintiman kita menjadi sahabat pena. Hingga suatu hari di pertengahan semester 2 kamu menghubungiku kembali. Aku tahu kabar perpisahanmu dengan perempuan itu beberapa hari setelah kita menjalin komunikasi. Aku lega, dan mulai berharap aku bisa jadi pengganti dia. Hampir dua tahun kita menjalin hubungan tanpa status. Walau tidak menggunakan media kertas, kita bisa lebih sering berinteraksi melalui telepon genggam. Kamu tidak juga meresmikan hubungan kita. Kamu malah bercerita tentang keseruan teman-teman kelasmu disana, termasuk kegilaan S, teman perempuanmu yang aku kenal yang kadang kamu ceritakan kegilaan-kegilaan yang kalian lakukan. Aku mulai merasa tidak enak hati. Firasatku berbisik, peristiwa dulu akan terulang lagi. Tidak lama setelah aku berpikir begitu, hal itu terbukti. Setelah aku coba pancing, akhirnya kamu mengaku bahwa kamu telah berpacaran dengan S. Aku hanya bisa pasrah (kembali). Dan agar kamu tidak merasa kasihan, aku mengaku bahwa aku juga sudah punya pacar. Di tempatku bersekolah, aku punya teman pria, dia sangat baik, tapi aku mengecewakannya ketika aku menolak ajakannya untuk berpacaran hanya karena aku optimis bahwa kamu akan meminta aku jadi pacar kamu. Akhirnya, aku minta temanku itu untuk berpura-pura menjadi pacarku. Karena kebaikannya, dia bersedia. Kita pun akhirnya saling bercerita tentang pacar masing-masing.

Kamu pernah bilang bahwa aku adalah seorang perempuan yang polos, pemalu, dan tidak bisa marah. Ya, itu benar. Walaupun aku berusaha untuk menganggap hubungan kamu dan S adalah kebahagiaan bagi sahabat penamu ini, tapi aku tetap sakit hati. Apalagi ketika kamu meminta aku untuk memilihkan hadiah ulangtahun untuk pacarmu. Aku ingin marah sebenarnya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Karena aku terlanjur luluh dan diperbudak oleh persahabatan kita. Saat itu aku hanya yakin bahwa karma itu ada.

Di awal perkuliahan, aku benar-benar sudah lupa akan kenangan kita. Aku punya dunia baru yang bisa menghiburku dari keterpurukan. Setelah aku mulai menikmati hari tanpamu, kamu datang kembali, membuka luka lama. Aku mendengar bahwa kamu telah dikhianati, S meninggalkanmu dengan pria lain di kampusnya. Aku sudah terlanjur kecewa dan tidak ingin merasakan sakit untuk ketiga kalinya. Oleh karena itu aku memutuskan untuk mengakhiri persahabatan kita pada waktu itu. Kita hanya teman biasa sekarang.

Mungkin setelah membaca surat ini, kamu bisa merasakan kemarahanku yang selama ini kamu penasaran ingin melihatnya. Kamu pasti tahu bahwa aku tidak tega walau untuk kesal dan cemberut sama kamu.

Terima kasih karena kamu pernah menjadi Sahabat penaku, sekaligus cinta pertamaku.

Your ex-penpal,


Widi Zakiyatin Nupus

P.S.: aku sudah membuang kaset F4 yang aku punya, begitu pula kertas-kertas dan kenangan kita.